
| |
KKR Pemuda Riau Dihadiri 17.500 Peserta, Panitia Siapkan Lokasi Lebih Besar Tahun Depan
Minggu, 25 Oktober 2026 | 11:11:00 |
|---|
| |
JMSI Riau Resmi Berkantor di Jalan Sumatera, Dheni Kurnia: Kita Pulang Kampung
Kamis, 8 Oktober 2026 | 20:36:01 |
|---|
| |
Sampe Simarmata Hilang Pasca-Bentrokan di PT ADEI, Keluarga Menanti Hasil Tes DNA Jenazah Misterius
Jumat, 23 Oktober 2026 | 17:18:27 |
|---|
| |
Digelar Awal November, Rektor UIR Dukung Penuh Seminar dan UKW JMSI Riau
Jumat, 16 Oktober 2026 | 20:52:49 |
|---|
| |
Speedboat Rombongan Pernikahan Kecelakaan di Terusan Kempas, Pengemudi Tewas
Senin, 26 Oktober 2026 | 10:47:42 |
|---|
| |
Polsek Kateman Bongkar Peredaran Sabu Nyaris 2 Kg, Tiga Pria Dicokok
Senin, 26 Oktober 2026 | 10:40:17 |
|---|
PEKANBARU - Dugaan penyadapan terhadap Presiden Prabowo Subianto oleh oknum di lingkungan internal kepolisian dinilai berpotensi mengganggu stabilitas keamanan nasional sekaligus merusak kredibilitas Indonesia di mata dunia internasional.
Peringatan itu disampaikan Direktur Geopolitik GREAT Institute, Dr. Teguh Santosa. Ia menilai, jika dugaan spionase internal tersebut terbukti, persoalannya bukan sekadar pelanggaran hukum, melainkan juga menyangkut ancaman serius terhadap kedaulatan informasi dan posisi strategis Indonesia dalam percaturan geopolitik global.
Menurut Teguh, keamanan seorang kepala negara merupakan bagian penting dari sistem pertahanan dan ketahanan nasional. Terlebih, Presiden memegang kendali atas berbagai kebijakan strategis negara yang informasi dan komunikasinya harus terlindungi.
"Ketika seorang kepala negara yang memegang kendali penuh atas kebijakan strategis nasional menjadi objek penyadapan oleh faksi di dalam negeri sendiri, hal ini mengirimkan sinyal bahaya yang menunjukkan adanya kerentanan struktural yang sangat serius bagi keamanan negara," ujar Teguh saat berada di Pekanbaru, Rabu (4/11/2026).
Ia menjelaskan, stabilitas domestik dan keamanan informasi pemerintahan merupakan dua faktor penting yang menentukan kepercayaan dunia internasional terhadap sebuah negara.
Dalam konteks Indonesia, persoalan ini dinilai semakin sensitif karena pemerintahan Presiden Prabowo tengah aktif memperkuat peran diplomatik dan hubungan strategis dengan berbagai kekuatan dunia melalui politik luar negeri bebas aktif.
Teguh mengingatkan, dugaan penyadapan terhadap Presiden dapat memunculkan pertanyaan di kalangan mitra internasional mengenai sejauh mana keamanan komunikasi dan kerahasiaan kebijakan strategis pemerintahan Indonesia terjamin.
Dampaknya, menurut dia, bukan tidak mungkin merembet pada kepercayaan mitra strategis maupun investor internasional terhadap stabilitas politik dan kepastian hukum di Indonesia.
"Aksi spionase internal semacam ini berpotensi dimanfaatkan oleh aktor-aktor geopolitik asing yang ingin melihat Indonesia melemah dari dalam," tegasnya.
Atas dasar itu, GREAT Institute mendesak pemerintah melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem pengamanan informasi dan komunikasi di lingkungan pemerintahan, khususnya lingkaran terdekat Presiden.
Audit keamanan siber, pemeriksaan terhadap sistem komunikasi kepresidenan, serta penelusuran terhadap pihak-pihak yang diduga terlibat dinilai perlu dilakukan secara serius dan transparan.
Teguh juga menekankan pentingnya penegakan hukum terhadap siapa pun yang terbukti melakukan tindakan di luar koridor hukum dan konstitusi. Evaluasi internal di tubuh aparat keamanan, menurutnya, harus menjadi bagian dari upaya memulihkan kepercayaan publik sekaligus menjaga wibawa negara.
Ia mengingatkan agar persoalan tersebut tidak dibiarkan berkembang menjadi konflik internal yang justru melemahkan konsolidasi pemerintahan dan posisi Indonesia di tingkat internasional.
Bagi GREAT Institute, perlindungan terhadap kedaulatan informasi negara bukan semata persoalan teknis keamanan, tetapi juga menyangkut kepentingan nasional yang lebih besar.
Karena itu, Teguh menyatakan pihaknya akan terus mengawal perkembangan kasus tersebut dari perspektif geopolitik dan kepentingan strategis Indonesia. (btn)
| |
AMPLANG, KULINER KHAS INHIL - PESONA WISATA KULINER
Kamis, 2 Maret 2023 | 21:37:48 |
|---|
| |
Wisata Edukasi di Perpustakaan Soeman HS
Senin, 7 November 2022 | 22:26:22 |
|---|
| |
Mal Pelayanan Publik Kota Pekanbaru
Senin, 7 November 2022 | 22:24:20 |
|---|
| ☰ | |
×
|
|---|
PEKANBARU - Dugaan penyadapan terhadap Presiden Prabowo Subianto oleh oknum di lingkungan internal kepolisian dinilai berpotensi mengganggu stabilitas keamanan nasional sekaligus merusak kredibilitas Indonesia di mata dunia internasional.
Peringatan itu disampaikan Direktur Geopolitik GREAT Institute, Dr. Teguh Santosa. Ia menilai, jika dugaan spionase internal tersebut terbukti, persoalannya bukan sekadar pelanggaran hukum, melainkan juga menyangkut ancaman serius terhadap kedaulatan informasi dan posisi strategis Indonesia dalam percaturan geopolitik global.
Menurut Teguh, keamanan seorang kepala negara merupakan bagian penting dari sistem pertahanan dan ketahanan nasional. Terlebih, Presiden memegang kendali atas berbagai kebijakan strategis negara yang informasi dan komunikasinya harus terlindungi.
"Ketika seorang kepala negara yang memegang kendali penuh atas kebijakan strategis nasional menjadi objek penyadapan oleh faksi di dalam negeri sendiri, hal ini mengirimkan sinyal bahaya yang menunjukkan adanya kerentanan struktural yang sangat serius bagi keamanan negara," ujar Teguh saat berada di Pekanbaru, Rabu (4/11/2026).
Ia menjelaskan, stabilitas domestik dan keamanan informasi pemerintahan merupakan dua faktor penting yang menentukan kepercayaan dunia internasional terhadap sebuah negara.
Dalam konteks Indonesia, persoalan ini dinilai semakin sensitif karena pemerintahan Presiden Prabowo tengah aktif memperkuat peran diplomatik dan hubungan strategis dengan berbagai kekuatan dunia melalui politik luar negeri bebas aktif.
Teguh mengingatkan, dugaan penyadapan terhadap Presiden dapat memunculkan pertanyaan di kalangan mitra internasional mengenai sejauh mana keamanan komunikasi dan kerahasiaan kebijakan strategis pemerintahan Indonesia terjamin.
Dampaknya, menurut dia, bukan tidak mungkin merembet pada kepercayaan mitra strategis maupun investor internasional terhadap stabilitas politik dan kepastian hukum di Indonesia.
"Aksi spionase internal semacam ini berpotensi dimanfaatkan oleh aktor-aktor geopolitik asing yang ingin melihat Indonesia melemah dari dalam," tegasnya.
Atas dasar itu, GREAT Institute mendesak pemerintah melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem pengamanan informasi dan komunikasi di lingkungan pemerintahan, khususnya lingkaran terdekat Presiden.
Audit keamanan siber, pemeriksaan terhadap sistem komunikasi kepresidenan, serta penelusuran terhadap pihak-pihak yang diduga terlibat dinilai perlu dilakukan secara serius dan transparan.
Teguh juga menekankan pentingnya penegakan hukum terhadap siapa pun yang terbukti melakukan tindakan di luar koridor hukum dan konstitusi. Evaluasi internal di tubuh aparat keamanan, menurutnya, harus menjadi bagian dari upaya memulihkan kepercayaan publik sekaligus menjaga wibawa negara.
Ia mengingatkan agar persoalan tersebut tidak dibiarkan berkembang menjadi konflik internal yang justru melemahkan konsolidasi pemerintahan dan posisi Indonesia di tingkat internasional.
Bagi GREAT Institute, perlindungan terhadap kedaulatan informasi negara bukan semata persoalan teknis keamanan, tetapi juga menyangkut kepentingan nasional yang lebih besar.
Karena itu, Teguh menyatakan pihaknya akan terus mengawal perkembangan kasus tersebut dari perspektif geopolitik dan kepentingan strategis Indonesia. (btn)
| |
Presiden Jadi Sasaran Dugaan Penyadapan, GREAT...
Rabu, 4 November 2026 | 18:12:54
|
|---|
| |
9 Bulan Laporan Dugaan KDRT Anggota DPR Mengendap...
Selasa, 27 Oktober 2026 | 20:55:15
|
|---|
| |
Speedboat Rombongan Pernikahan Kecelakaan di...
Senin, 26 Oktober 2026 | 10:47:42
|
|---|
| |
Polsek Kateman Bongkar Peredaran Sabu Nyaris 2...
Senin, 26 Oktober 2026 | 10:40:17
|
|---|
| Presiden Jadi Sasaran Dugaan Penyadapan, GREAT Institute Desak Audit Keamanan Istana
Rabu, 4 November 2026 | 18:12:54
|
|
|---|
| 9 Bulan Laporan Dugaan KDRT Anggota DPR Mengendap di MKD, Kuasa Hukum Korban Desak Kepastian
Selasa, 27 Oktober 2026 | 20:55:15
|
|
|---|
| Speedboat Rombongan Pernikahan Kecelakaan di Terusan Kempas, Pengemudi Tewas
Senin, 26 Oktober 2026 | 10:47:42
|
|
|---|
| Polsek Kateman Bongkar Peredaran Sabu Nyaris 2 Kg, Tiga Pria Dicokok
Senin, 26 Oktober 2026 | 10:40:17
|
|
|---|
| KKR Pemuda Riau Dihadiri 17.500 Peserta, Panitia Siapkan Lokasi Lebih Besar Tahun Depan
Minggu, 25 Oktober 2026 | 11:11:00
|
|
|---|
| Presiden Jadi Sasaran Dugaan Penyadapan, GREAT Institute Desak Audit Keamanan Istana
Rabu, 4 November 2026 | 18:12:54
|
|
|---|
| 9 Bulan Laporan Dugaan KDRT Anggota DPR Mengendap di MKD, Kuasa Hukum Korban Desak Kepastian
Selasa, 27 Oktober 2026 | 20:55:15
|
|
|---|
| Speedboat Rombongan Pernikahan Kecelakaan di Terusan Kempas, Pengemudi Tewas
Senin, 26 Oktober 2026 | 10:47:42
|
|
|---|
| Polsek Kateman Bongkar Peredaran Sabu Nyaris 2 Kg, Tiga Pria Dicokok
Senin, 26 Oktober 2026 | 10:40:17
|
|
|---|
| Sampe Simarmata Hilang Pasca-Bentrokan di PT ADEI, Keluarga Menanti Hasil Tes DNA Jenazah Misterius
Jumat, 23 Oktober 2026 | 17:18:27
|
|
|---|
| Digelar Awal November, Rektor UIR Dukung Penuh Seminar dan UKW JMSI Riau
Jumat, 16 Oktober 2026 | 20:52:49
|
|
|---|
| JMSI Riau Resmi Berkantor di Jalan Sumatera, Dheni Kurnia: Kita Pulang Kampung
Kamis, 8 Oktober 2026 | 20:36:01
|
|
|---|
| Merasa Dicemarkan, Suami ASN Setwan Pekanbaru Adukan Tiga Media Online dan Akun TikTok ke Polda Riau
Senin, 5 Oktober 2026 | 21:23:46
|
|
|---|
| Zulmaeta Buka Suara soal Dugaan Penipuan di Polda Riau, Ungkap Transaksi Saham dan Tanah Rp9,6 Miliar
Senin, 5 Oktober 2026 | 21:20:03
|
|
|---|
Wisata Edukasi di Perpustakaan Soeman HS |
Mal Pelayanan Publik Kota Pekanbaru |
|---|---|
Investasi Kawasan Industri Tenayan Pekanbaru
| Protokol Isolasi Mandiri |
| Vonis Banding PT Riau: Hukuman Gubernur Nonaktif Abdul Wahid Bertambah Jadi 4 Tahun
Senin, 5 Oktober 2026 | 21:16:08
|
|
|---|
| Lima Daerah Pesisir Kompak Beri Dukungan, "Bola" Pemekaran Kini di Tangan Gubernur dan DPRD Riau
Minggu, 4 Oktober 2026 | 19:31:36
|
|
|---|
| Periksa 8 Kebun dan PKS di Kuansing, Gakkum Temukan Beragam Dugaan Pelanggaran Lingkungan
Minggu, 4 Oktober 2026 | 19:26:06
|
|
|---|
| Video Bupati Siak Viral, Wapres Gibran Langsung Terjunkan Tim Khusus ke Wilayah 3T
Minggu, 4 Oktober 2026 | 19:21:21
|
|
|---|
| Puluhan Wartawan Sudah Daftar, JMSI Riau Segera Gelar UKW Muda, Madya dan Utama
Senin, 28 September 2026 | 19:17:03
|
|
|---|