Tragedi Banjir Nepal-China: 9 Hari Terkubur, Dua Pekerja Terowongan PLTA Diselamatkan Hidup-Hidup
Editor: adminredaksi77 | Reporter : anadolu
Jumat, 4 September 2026 | 19:38:26
Rekaman yang dirilis Angkatan Darat Nepal memperlihatkan Shah ditarik keluar dari pintu masuk terowongan yang sempit dan gelap.

KATHMANDU - Bencana banjir bandang dan longsor dahsyat yang menerjang kawasan perbatasan Nepal-China memasuki pekan kedua dengan angka korban yang terus membesar. Sedikitnya 1.280 orang tewas dan 5.624 lainnya masih dinyatakan hilang.

Di tengah operasi pencarian yang semakin berat, secercah harapan muncul dari sebuah terowongan pembangkit listrik tenaga air di Nepal. Dua pekerja berhasil ditemukan hidup-hidup setelah terjebak selama sembilan hari sejak bencana melanda pada 26 Agustus.

Keduanya, Sanjay Sah dan Kabir Maharjan, dievakuasi dari terowongan di proyek Upper Trishuli 3A Hydropower Station dan langsung dibawa ke rumah sakit militer di Kathmandu. Penyelamatan tersebut kembali menumbuhkan harapan bahwa masih ada korban lain yang mungkin ditemukan dalam kondisi hidup.

Namun, secara keseluruhan, situasi masih sangat memprihatinkan.

Otoritas Nasional Pengurangan Risiko dan Penanggulangan Bencana Nepal melaporkan 1.259 orang meninggal dunia dan 5.083 orang masih hilang. Dari jumlah korban hilang di Nepal itu, sedikitnya 583 merupakan warga negara asing.

Lebih dari 21.400 personel keamanan telah dikerahkan untuk melakukan pencarian, penyelamatan, evakuasi, sekaligus menyalurkan bantuan ke wilayah-wilayah yang terisolasi.

Di sisi China, tepatnya wilayah Tibet yang berbatasan dengan Nepal, otoritas setempat melaporkan 21 orang tewas dan 541 lainnya masih hilang, termasuk 261 warga asing. Dengan demikian, total korban tewas di kedua negara mencapai 1.280 orang.

Keluarga Kehilangan Harapan

Besarnya jumlah korban hilang membuat keluarga di sejumlah wilayah Nepal mulai menghadapi kenyataan pahit. Sebagian bahkan telah menggelar upacara pemakaman simbolis bagi anggota keluarga yang jasadnya belum ditemukan.

Di Distrik Rasuwa, salah satu wilayah yang mengalami kerusakan paling parah, keluarga korban membuat patung dari kaas-kush, sejenis rumput yang dianggap suci, sebagai simbol jasad kerabat mereka yang hilang.

Upacara tersebut dilakukan setelah keluarga mulai kehilangan harapan untuk menemukan jenazah orang-orang yang mereka cintai.

Pada Rabu (2/9/2026), puluhan patung simbolis itu kemudian dikremasi dalam sebuah upacara pemakaman massal di Kuil Pashupati Aryaghat, di tepi Sungai Bagmati, Kathmandu.

Di Chitwan, otoritas juga menghadapi persoalan serupa. Jasad-jasad yang belum berhasil diidentifikasi dikuburkan setelah sampel DNA dikumpulkan untuk membantu proses identifikasi di kemudian hari.

Besarnya jumlah korban membuat fasilitas pemulasaraan jenazah kewalahan. Di sejumlah distrik, banjir bahkan telah menghanyutkan rumah, tempat ibadah, dan fasilitas yang biasanya digunakan masyarakat untuk menjalankan ritual pemakaman.

Para penyintas yang kehilangan tempat tinggal dan mengungsi ke Kathmandu juga menghadapi keterbatasan fasilitas untuk melakukan ritual bagi anggota keluarga mereka yang hilang.

Infrastruktur lumpuh, pencarian terus berlanjut

Tim militer, kepolisian, dan relawan masih menyisir wilayah terdampak untuk mencari korban. Namun, operasi penyelamatan menghadapi tantangan besar karena banyak ruas jalan terputus, jaringan listrik dan komunikasi rusak, sementara sejumlah wilayah masih tertutup material longsor.

Tim penyelamat juga harus bergerak cepat menyalurkan makanan, air bersih dan kebutuhan dasar kepada para pengungsi. Kebersihan tempat penampungan menjadi perhatian serius karena meningkatnya risiko penyakit menular.

Bencana ini juga meninggalkan kerusakan infrastruktur yang sangat besar. Pemerintah Nepal memperkirakan kerugian akibat bencana mencapai sekitar 387,5 miliar rupee Nepal atau sekitar US$2,56 miliar. Sedikitnya 7.500 rumah hancur dan sekitar 20.000 rumah diperkirakan membutuhkan pembangunan kembali.

Berawal dari Runtuhnya Gletser

Banjir bandang bermula pada 26 Agustus 2026, ketika bagian gletser di kawasan Gunung Langtang Lirung, pada ketinggian sekitar 5.200 meter, runtuh.

Runtuhan es dan batu tersebut memicu longsoran besar yang kemudian berubah menjadi aliran dahsyat berisi air, lumpur, batu dan material lainnya. Gelombang material itu meluncur melalui lembah-lembah pegunungan menuju kawasan perbatasan Nepal-China.

Di Nepal, sejumlah wilayah terdampak paling parah berada di Rasuwa, Nuwakot, Dhading dan Kavre, termasuk kawasan Lembah Kathmandu. Di sisi China, material longsoran menghantam kawasan Gyirong di Daerah Otonomi Xizang atau Tibet dan menimbulkan kerusakan besar di titik lintas batas.

Hingga Jumat (4/9/2026), pencarian korban masih berlangsung. Penemuan dua pekerja yang berhasil bertahan selama sembilan hari di dalam terowongan memberi sedikit harapan di tengah tragedi yang telah menewaskan lebih dari seribu orang tersebut.

Bagi keluarga ribuan korban lainnya, pencarian masih menjadi satu-satunya harapan untuk mendapatkan kepastian tentang nasib orang-orang yang mereka cintai. (*)

Zona
hukum
Bisnis
Wisata Edukasi di Perpustakaan Soeman HS

Senin, 7 November 2022 | 22:26:22
Mal Pelayanan Publik Kota Pekanbaru

Senin, 7 November 2022 | 22:24:20
nasional
internasional
profil
otomotif
Artikel Pilihan
Tragedi Banjir Nepal-China: 9 Hari Terkubur, Dua Pekerja Terowongan PLTA Diselamatkan Hidup-Hidup | Redaksi77.co
☰
×
Home /dunia
Tragedi Banjir Nepal-China: 9 Hari Terkubur, Dua Pekerja Terowongan PLTA Diselamatkan Hidup-Hidup
Editor : adminredaksi77 | Penulis: anadolu
Jumat, 4 September 2026 | 19:38:26
Rekaman yang dirilis Angkatan Darat Nepal memperlihatkan Shah ditarik keluar dari pintu masuk terowongan yang sempit dan gelap.

KATHMANDU - Bencana banjir bandang dan longsor dahsyat yang menerjang kawasan perbatasan Nepal-China memasuki pekan kedua dengan angka korban yang terus membesar. Sedikitnya 1.280 orang tewas dan 5.624 lainnya masih dinyatakan hilang.

Di tengah operasi pencarian yang semakin berat, secercah harapan muncul dari sebuah terowongan pembangkit listrik tenaga air di Nepal. Dua pekerja berhasil ditemukan hidup-hidup setelah terjebak selama sembilan hari sejak bencana melanda pada 26 Agustus.

Keduanya, Sanjay Sah dan Kabir Maharjan, dievakuasi dari terowongan di proyek Upper Trishuli 3A Hydropower Station dan langsung dibawa ke rumah sakit militer di Kathmandu. Penyelamatan tersebut kembali menumbuhkan harapan bahwa masih ada korban lain yang mungkin ditemukan dalam kondisi hidup.

Namun, secara keseluruhan, situasi masih sangat memprihatinkan.

Otoritas Nasional Pengurangan Risiko dan Penanggulangan Bencana Nepal melaporkan 1.259 orang meninggal dunia dan 5.083 orang masih hilang. Dari jumlah korban hilang di Nepal itu, sedikitnya 583 merupakan warga negara asing.

Lebih dari 21.400 personel keamanan telah dikerahkan untuk melakukan pencarian, penyelamatan, evakuasi, sekaligus menyalurkan bantuan ke wilayah-wilayah yang terisolasi.

Di sisi China, tepatnya wilayah Tibet yang berbatasan dengan Nepal, otoritas setempat melaporkan 21 orang tewas dan 541 lainnya masih hilang, termasuk 261 warga asing. Dengan demikian, total korban tewas di kedua negara mencapai 1.280 orang.

Keluarga Kehilangan Harapan

Besarnya jumlah korban hilang membuat keluarga di sejumlah wilayah Nepal mulai menghadapi kenyataan pahit. Sebagian bahkan telah menggelar upacara pemakaman simbolis bagi anggota keluarga yang jasadnya belum ditemukan.

Di Distrik Rasuwa, salah satu wilayah yang mengalami kerusakan paling parah, keluarga korban membuat patung dari kaas-kush, sejenis rumput yang dianggap suci, sebagai simbol jasad kerabat mereka yang hilang.

Upacara tersebut dilakukan setelah keluarga mulai kehilangan harapan untuk menemukan jenazah orang-orang yang mereka cintai.

Pada Rabu (2/9/2026), puluhan patung simbolis itu kemudian dikremasi dalam sebuah upacara pemakaman massal di Kuil Pashupati Aryaghat, di tepi Sungai Bagmati, Kathmandu.

Di Chitwan, otoritas juga menghadapi persoalan serupa. Jasad-jasad yang belum berhasil diidentifikasi dikuburkan setelah sampel DNA dikumpulkan untuk membantu proses identifikasi di kemudian hari.

Besarnya jumlah korban membuat fasilitas pemulasaraan jenazah kewalahan. Di sejumlah distrik, banjir bahkan telah menghanyutkan rumah, tempat ibadah, dan fasilitas yang biasanya digunakan masyarakat untuk menjalankan ritual pemakaman.

Para penyintas yang kehilangan tempat tinggal dan mengungsi ke Kathmandu juga menghadapi keterbatasan fasilitas untuk melakukan ritual bagi anggota keluarga mereka yang hilang.

Infrastruktur lumpuh, pencarian terus berlanjut

Tim militer, kepolisian, dan relawan masih menyisir wilayah terdampak untuk mencari korban. Namun, operasi penyelamatan menghadapi tantangan besar karena banyak ruas jalan terputus, jaringan listrik dan komunikasi rusak, sementara sejumlah wilayah masih tertutup material longsor.

Tim penyelamat juga harus bergerak cepat menyalurkan makanan, air bersih dan kebutuhan dasar kepada para pengungsi. Kebersihan tempat penampungan menjadi perhatian serius karena meningkatnya risiko penyakit menular.

Bencana ini juga meninggalkan kerusakan infrastruktur yang sangat besar. Pemerintah Nepal memperkirakan kerugian akibat bencana mencapai sekitar 387,5 miliar rupee Nepal atau sekitar US$2,56 miliar. Sedikitnya 7.500 rumah hancur dan sekitar 20.000 rumah diperkirakan membutuhkan pembangunan kembali.

Berawal dari Runtuhnya Gletser

Banjir bandang bermula pada 26 Agustus 2026, ketika bagian gletser di kawasan Gunung Langtang Lirung, pada ketinggian sekitar 5.200 meter, runtuh.

Runtuhan es dan batu tersebut memicu longsoran besar yang kemudian berubah menjadi aliran dahsyat berisi air, lumpur, batu dan material lainnya. Gelombang material itu meluncur melalui lembah-lembah pegunungan menuju kawasan perbatasan Nepal-China.

Di Nepal, sejumlah wilayah terdampak paling parah berada di Rasuwa, Nuwakot, Dhading dan Kavre, termasuk kawasan Lembah Kathmandu. Di sisi China, material longsoran menghantam kawasan Gyirong di Daerah Otonomi Xizang atau Tibet dan menimbulkan kerusakan besar di titik lintas batas.

Hingga Jumat (4/9/2026), pencarian korban masih berlangsung. Penemuan dua pekerja yang berhasil bertahan selama sembilan hari di dalam terowongan memberi sedikit harapan di tengah tragedi yang telah menewaskan lebih dari seribu orang tersebut.

Bagi keluarga ribuan korban lainnya, pencarian masih menjadi satu-satunya harapan untuk mendapatkan kepastian tentang nasib orang-orang yang mereka cintai. (*)

Pilihan Editor
Speedboat Rombongan Pernikahan Kecelakaan di...

Senin, 26 Oktober 2026 | 10:47:42
Polsek Kateman Bongkar Peredaran Sabu Nyaris 2...

Senin, 26 Oktober 2026 | 10:40:17
Artikel Populer
Wisata Edukasi di Perpustakaan Soeman HS
Mal Pelayanan Publik Kota Pekanbaru
Investasi Kawasan Industri Tenayan Pekanbaru
Protokol Isolasi Mandiri