2025 Salah Satu Tahun Terpanas Dalam Sejarah, WNO: Pemicu Berbagai Peristiwa Cuaca Ekstrem
Editor: adminredaksi77 | Reporter :
Kamis, 15 Januari 2026 | 13:21:51
Anak-anak mendinginkan diri di dalam air selama gelombang panas di Haarlem, Belanda, (2/7/2025).

JENEWA - Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) pada Rabu (14/1/2026) mengonfirmasi bahwa 2025 merupakan salah satu dari tiga tahun terpanas dalam sejarah, memperpanjang rentetan catatan suhu global yang sangat tinggi.

Rata-rata suhu permukaan global pada 2025 tercatat 1,44 derajat Celsius di atas rata-rata 1850-1900, sebut analisis gabungan WMO dari delapan kumpulan data (dataset).

Dua dari dataset tersebut menempatkan 2025 sebagai tahun terpanas kedua dalam periode pencatatan selama 176 tahun, sementara enam dataset lainnya menetapkan 2025 sebagai tahun terpanas ketiga, urai WMO dalam sebuah rilis pers.

Tiga tahun terakhir, yaitu 2023, 2024, dan 2025, merupakan tiga tahun terpanas di keseluruhan delapan dataset itu. Rata-rata suhu gabungan tiga tahun untuk 2023-2025 tercatat 1,48 derajat Celsius di atas level praindustri.

"Tahun 2025 dimulai dan diakhiri dengan mendinginnya kondisi La Nina, namun tetap tercatat sebagai salah satu tahun terpanas dalam sejarah akibat akumulasi gas rumah kaca yang memerangkap panas di atmosfer," ujar Sekretaris Jenderal WMO Celeste Saulo.

Saulo menambahkan bahwa tingginya suhu daratan dan laut membantu memicu berbagai peristiwa cuaca ekstrem, termasuk gelombang panas, hujan lebat, dan siklon tropis yang intens, menggarisbawahi pentingnya sistem peringatan dini.

Menurut WMO, sebuah studi terpisah yang dipublikasikan dalam jurnal Advances in Atmospheric Sciences menemukan bahwa suhu laut pada 2025 juga termasuk yang tertinggi dalam sejarah, mencerminkan akumulasi panas jangka panjang dalam sistem iklim.

Sekitar 90 persen ekses panas dari pemanasan global tersimpan di laut, menjadikan panas lautan sebagai indikator krusial perubahan iklim. (**)

Zona
hukum
Bisnis
Wisata Edukasi di Perpustakaan Soeman HS

Senin, 7 November 2022 | 22:26:22
Mal Pelayanan Publik Kota Pekanbaru

Senin, 7 November 2022 | 22:24:20
nasional
internasional
profil
otomotif
Artikel Pilihan
2025 Salah Satu Tahun Terpanas Dalam Sejarah, WNO: Pemicu Berbagai Peristiwa Cuaca Ekstrem | Redaksi77.co
×
Home /dunia
2025 Salah Satu Tahun Terpanas Dalam Sejarah, WNO: Pemicu Berbagai Peristiwa Cuaca Ekstrem
Editor : adminredaksi77 | Penulis:
Kamis, 15 Januari 2026 | 13:21:51
Anak-anak mendinginkan diri di dalam air selama gelombang panas di Haarlem, Belanda, (2/7/2025).

JENEWA - Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) pada Rabu (14/1/2026) mengonfirmasi bahwa 2025 merupakan salah satu dari tiga tahun terpanas dalam sejarah, memperpanjang rentetan catatan suhu global yang sangat tinggi.

Rata-rata suhu permukaan global pada 2025 tercatat 1,44 derajat Celsius di atas rata-rata 1850-1900, sebut analisis gabungan WMO dari delapan kumpulan data (dataset).

Dua dari dataset tersebut menempatkan 2025 sebagai tahun terpanas kedua dalam periode pencatatan selama 176 tahun, sementara enam dataset lainnya menetapkan 2025 sebagai tahun terpanas ketiga, urai WMO dalam sebuah rilis pers.

Tiga tahun terakhir, yaitu 2023, 2024, dan 2025, merupakan tiga tahun terpanas di keseluruhan delapan dataset itu. Rata-rata suhu gabungan tiga tahun untuk 2023-2025 tercatat 1,48 derajat Celsius di atas level praindustri.

"Tahun 2025 dimulai dan diakhiri dengan mendinginnya kondisi La Nina, namun tetap tercatat sebagai salah satu tahun terpanas dalam sejarah akibat akumulasi gas rumah kaca yang memerangkap panas di atmosfer," ujar Sekretaris Jenderal WMO Celeste Saulo.

Saulo menambahkan bahwa tingginya suhu daratan dan laut membantu memicu berbagai peristiwa cuaca ekstrem, termasuk gelombang panas, hujan lebat, dan siklon tropis yang intens, menggarisbawahi pentingnya sistem peringatan dini.

Menurut WMO, sebuah studi terpisah yang dipublikasikan dalam jurnal Advances in Atmospheric Sciences menemukan bahwa suhu laut pada 2025 juga termasuk yang tertinggi dalam sejarah, mencerminkan akumulasi panas jangka panjang dalam sistem iklim.

Sekitar 90 persen ekses panas dari pemanasan global tersimpan di laut, menjadikan panas lautan sebagai indikator krusial perubahan iklim. (**)

Pilihan Editor
Kapolda Tinjau TKP Kematian Gajah di Areal HTI...

Senin, 9 Februari 2026 | 17:18:53
Artikel Populer
Wisata Edukasi di Perpustakaan Soeman HS
Mal Pelayanan Publik Kota Pekanbaru
Investasi Kawasan Industri Tenayan Pekanbaru
Protokol Isolasi Mandiri