Pelajar Tewas Usai Perkelahian di Pekanbaru, Keluarga Desak Polda Riau Percepat Penyidikan
Editor: adminredaksi77 | Reporter : Rico
Rabu, 22 Juli 2026 | 18:36:41

PEKANBARU - Seorang pelajar di Kota Pekanbaru, Riau, Muhammad Fahri, meninggal dunia setelah diduga terlibat perkelahian dengan pelajar lain. Keluarga korban melaporkan peristiwa tersebut ke Polda Riau dan meminta polisi mengusut penyebab kematian korban.

Berdasarkan Laporan Polisi Nomor LP/B/409/VII/2026/SPKT/POLDA RIAU tertanggal 18 Juli 2026, peristiwa itu terjadi di Jalan Eka Tunggal, Kecamatan Tuah Madani, Pekanbaru, pada Minggu (12/7/2026) sekitar pukul 16.30 WIB.

Dalam laporan tersebut dijelaskan, sepulang ke rumah korban mengeluhkan kondisi tubuhnya yang tidak enak. Saat hendak buang air kecil dengan bantuan keluarganya, urine korban disebut berwarna hitam dan disertai rasa nyeri.

Korban kemudian dilarikan ke RS Aulia Panam untuk mendapatkan penanganan medis. Hasil pemeriksaan CT Scan menunjukkan korban mengalami pendarahan di otak dan patah tulang leher. Selanjutnya korban dirujuk ke RSUD Arifin Achmad Pekanbaru untuk menjalani perawatan lanjutan.

Sebelum meninggal dunia pada Selasa (14/7/2026), korban sempat menjelaskan kepada keluarganya bahwa dirinya terlibat perkelahian dengan seorang pelajar berinisial B. Merasa ada dugaan tindak pidana yang menyebabkan kematian anaknya, keluarga kemudian melaporkan kasus tersebut ke Polda Riau.

Laporan itu dibuat atas dugaan pelanggaran Pasal 76C Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak dan/atau Pasal 466 ayat (3) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023 juncto Pasal 80 Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak.

Perkembangan terbaru, tim kuasa hukum keluarga korban mendatangi Mapolda Riau pada Selasa (22/7/2026) untuk meminta Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) mempercepat proses penyidikan.

Kuasa hukum keluarga, Lyanson TM Siagian, S.H., M.H., dan Alqabani Syahrizal Sh,LL.B mengatakan percepatan penanganan diperlukan karena korban telah dimakamkan. Menurut dia, langkah cepat dibutuhkan apabila nantinya penyidik memerlukan ekshumasi untuk kepentingan pembuktian.

"Kami memohon perhatian dari pihak kepolisian, khususnya Direktorat Reskrimum, agar mempercepat proses pemeriksaan. Korban sudah dimakamkan. Apabila nantinya diperlukan ekshumasi, kami khawatir kondisi jenazah dapat menjadi kendala dalam pemeriksaan forensik," kata Lyanson saat konferensi pers di depan Mapolda Riau.

Ia menjelaskan, berdasarkan informasi yang diterima keluarga, perkelahian terjadi di luar jam sekolah dan sempat dilerai oleh teman-teman korban. Namun, setelah pulang ke rumah, kondisi korban terus memburuk hingga mengalami kejang-kejang dan akhirnya meninggal dunia setelah menjalani perawatan di sejumlah rumah sakit.

Menurut Lyanson, keluarga masih menunggu hasil pemeriksaan forensik untuk memastikan penyebab kematian korban. Meski demikian, keluarga menilai terdapat sejumlah kejanggalan dalam peristiwa tersebut.

"Keluarga merasa ada yang ganjil apabila ini hanya perkelahian biasa. Dugaan apakah ada penggunaan benda tertentu atau kemungkinan pengeroyokan, kami serahkan sepenuhnya kepada penyidik untuk dibuktikan," ujarnya.

Hingga kini, penyidik Ditreskrimum Polda Riau masih menangani laporan tersebut dan melakukan penyelidikan untuk mengungkap penyebab pasti kematian Muhammad Fahri. (rco)

Zona
hukum
Bisnis
Wisata Edukasi di Perpustakaan Soeman HS

Senin, 7 November 2022 | 22:26:22
Mal Pelayanan Publik Kota Pekanbaru

Senin, 7 November 2022 | 22:24:20
nasional
internasional
profil
otomotif
Artikel Pilihan
Pelajar Tewas Usai Perkelahian di Pekanbaru, Keluarga Desak Polda Riau Percepat Penyidikan | Redaksi77.co
×
Home /hukum
Pelajar Tewas Usai Perkelahian di Pekanbaru, Keluarga Desak Polda Riau Percepat Penyidikan
Editor : adminredaksi77 | Penulis: Rico
Rabu, 22 Juli 2026 | 18:36:41

PEKANBARU - Seorang pelajar di Kota Pekanbaru, Riau, Muhammad Fahri, meninggal dunia setelah diduga terlibat perkelahian dengan pelajar lain. Keluarga korban melaporkan peristiwa tersebut ke Polda Riau dan meminta polisi mengusut penyebab kematian korban.

Berdasarkan Laporan Polisi Nomor LP/B/409/VII/2026/SPKT/POLDA RIAU tertanggal 18 Juli 2026, peristiwa itu terjadi di Jalan Eka Tunggal, Kecamatan Tuah Madani, Pekanbaru, pada Minggu (12/7/2026) sekitar pukul 16.30 WIB.

Dalam laporan tersebut dijelaskan, sepulang ke rumah korban mengeluhkan kondisi tubuhnya yang tidak enak. Saat hendak buang air kecil dengan bantuan keluarganya, urine korban disebut berwarna hitam dan disertai rasa nyeri.

Korban kemudian dilarikan ke RS Aulia Panam untuk mendapatkan penanganan medis. Hasil pemeriksaan CT Scan menunjukkan korban mengalami pendarahan di otak dan patah tulang leher. Selanjutnya korban dirujuk ke RSUD Arifin Achmad Pekanbaru untuk menjalani perawatan lanjutan.

Sebelum meninggal dunia pada Selasa (14/7/2026), korban sempat menjelaskan kepada keluarganya bahwa dirinya terlibat perkelahian dengan seorang pelajar berinisial B. Merasa ada dugaan tindak pidana yang menyebabkan kematian anaknya, keluarga kemudian melaporkan kasus tersebut ke Polda Riau.

Laporan itu dibuat atas dugaan pelanggaran Pasal 76C Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak dan/atau Pasal 466 ayat (3) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023 juncto Pasal 80 Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak.

Perkembangan terbaru, tim kuasa hukum keluarga korban mendatangi Mapolda Riau pada Selasa (22/7/2026) untuk meminta Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) mempercepat proses penyidikan.

Kuasa hukum keluarga, Lyanson TM Siagian, S.H., M.H., dan Alqabani Syahrizal Sh,LL.B mengatakan percepatan penanganan diperlukan karena korban telah dimakamkan. Menurut dia, langkah cepat dibutuhkan apabila nantinya penyidik memerlukan ekshumasi untuk kepentingan pembuktian.

"Kami memohon perhatian dari pihak kepolisian, khususnya Direktorat Reskrimum, agar mempercepat proses pemeriksaan. Korban sudah dimakamkan. Apabila nantinya diperlukan ekshumasi, kami khawatir kondisi jenazah dapat menjadi kendala dalam pemeriksaan forensik," kata Lyanson saat konferensi pers di depan Mapolda Riau.

Ia menjelaskan, berdasarkan informasi yang diterima keluarga, perkelahian terjadi di luar jam sekolah dan sempat dilerai oleh teman-teman korban. Namun, setelah pulang ke rumah, kondisi korban terus memburuk hingga mengalami kejang-kejang dan akhirnya meninggal dunia setelah menjalani perawatan di sejumlah rumah sakit.

Menurut Lyanson, keluarga masih menunggu hasil pemeriksaan forensik untuk memastikan penyebab kematian korban. Meski demikian, keluarga menilai terdapat sejumlah kejanggalan dalam peristiwa tersebut.

"Keluarga merasa ada yang ganjil apabila ini hanya perkelahian biasa. Dugaan apakah ada penggunaan benda tertentu atau kemungkinan pengeroyokan, kami serahkan sepenuhnya kepada penyidik untuk dibuktikan," ujarnya.

Hingga kini, penyidik Ditreskrimum Polda Riau masih menangani laporan tersebut dan melakukan penyelidikan untuk mengungkap penyebab pasti kematian Muhammad Fahri. (rco)

Pilihan Editor
Selisih Paham Berujung Maut, Seorang Warga...

Rabu, 9 September 2026 | 12:22:33
10.783 Warga Riau Terserang ISPA, Ribuan Balita...

Selasa, 8 September 2026 | 18:13:51
Proyek Jalan Rp6,9 Miliar di Pelalawan...

Selasa, 8 September 2026 | 17:44:43
Artikel Populer
Wisata Edukasi di Perpustakaan Soeman HS
Mal Pelayanan Publik Kota Pekanbaru
Investasi Kawasan Industri Tenayan Pekanbaru
Protokol Isolasi Mandiri