Sidang Korupsi Abdul Wahid Memanas, Hubungan Retak dengan SF Hariyanto Terungkap di Pengadilan
Editor: adminredaksi77 | Reporter : Rico
Rabu, 3 Juni 2026 | 20:02:16
Plt Gubernur Riau SF Hariyanto dihadirkan sebagai saksi di PN Pekanbaru. (Foto: Rico)

PEKANBARU - Sidang lanjutan perkara dugaan tindak pidana korupsi yang menjerat Gubernur Riau nonaktif Abdul Wahid di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Pekanbaru, Rabu (3/6/2026), berlangsung panas.

Persidangan tidak hanya membahas pokok perkara, tetapi juga membuka secara terang hubungan politik dan pemerintahan antara Abdul Wahid dengan Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Riau SF Hariyanto yang hadir sebagai saksi.

Dalam kesempatan itu, Abdul Wahid dan SF Hariyanto terlibat dialog langsung yang beberapa kali diwarnai saling bantah terkait perjalanan politik keduanya hingga hubungan yang disebut mulai merenggang setelah Pilkada Riau.

Abdul Wahid mengawali pertanyaannya dengan mengungkapkan rasa senang dapat bertemu langsung dengan SF Hariyanto di ruang sidang.

"Saya senang melihat Pak SF ada di sini. Sebelumnya belum pernah ketemu saat OTT," kata Abdul Wahid.

Wahid kemudian mengulas proses pencalonan mereka pada Pilgub Riau. Ia mempertanyakan apakah dirinya pernah meminta secara langsung untuk menjadi gubernur.

Menjawab pertanyaan tersebut, SF Hariyanto menjelaskan bahwa pada awalnya dirinya enggan maju dalam kontestasi politik karena mempertimbangkan etika birokrasi. Saat itu, mantan Gubernur Riau Syamsuar masih berkeinginan maju dalam Pilgub.

"Saya disuruh maju berhadapan dengan kandidat dan Pak Syamsuar ingin maju. Pak Syamsuar atasan saya dan secara etika tidak bagus melawan atasan saya," ujar SF.

Menurut SF, ketika Syamsuar akhirnya tidak maju, dirinya justru meminta Abdul Wahid untuk maju sebagai calon gubernur.

"Di tengah perjalanan Pak Syamsuar tidak maju jadi gubernur. Saya minta Abdul Wahid yang maju," katanya.

"Ya, majulah," lanjut SF menirukan percakapan saat itu.

SF juga menyebut kesepakatan yang kemudian terbentuk adalah Abdul Wahid maju sebagai calon gubernur dan dirinya sebagai calon wakil gubernur.

"Bapak maju dan saya wakil," ujarnya.

Persidangan semakin menarik ketika pembahasan beralih pada hubungan keduanya setelah terpilih memimpin Riau. Abdul Wahid mengungkapkan masih mengingat komunikasi yang terjadi setelah pelantikan, termasuk saat bulan Ramadan ketika SF Hariyanto ingin bertemu dengannya.

"Saya masih ingat, bapak ingin bertemu dengan saya setelah pelantikan. Waktu itu melalui telepon, supaya saya datang ke rumah," kata Wahid.

Namun menurut Wahid, saat itu dirinya meminta agar SF yang datang menemuinya.

Selain membahas hubungan pribadi, Abdul Wahid juga menyinggung dugaan adanya rekaman pemeriksaan dirinya di Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang disebut pernah diperlihatkan SF Hariyanto kepada sejumlah pihak.

"Dia menunjukkan rekaman saya diperiksa KPK. Saya kaget, kok pemeriksaan KPK bisa ada. Itu ditunjukkan ke Arwin dan banyak orang," kata Wahid.

Ia juga menyebut adanya pernyataan yang menurutnya pernah disampaikan SF terkait pengaruh yang dimilikinya.

"Ketua hati-hati, ketua tidak bersih. Tangan saya di mana-mana, di KPK ada," ujar Wahid mengutip dugaan ucapan tersebut.

Namun SF Hariyanto secara tegas membantah tudingan itu.

"Tidak benar saya ucapkan itu," jawabnya.

Abdul Wahid kembali mengajukan pertanyaan terkait dugaan pernyataan lain yang disebut pernah disampaikan SF.

"Ketua jangan macam-macam dengan saya, saya otaknya kotor. Pernah bilang itu?" tanya Wahid.

"Tidak pernah," jawab SF.

Suasana sidang sempat memanas ketika Abdul Wahid menanyakan soal permintaan maaf yang disebut pernah dilakukan SF Hariyanto kepadanya.

"Berapa kali bapak minta maaf ke saya dan cium tangan saya?" tanya Wahid.

Mendengar pertanyaan itu, SF langsung bereaksi.

"Siapa bapak kiranya?" jawab SF.

Wahid kemudian mengungkit pertemuan yang difasilitasi Kapolda Riau untuk mendamaikan keduanya.

"Waktu Kapolda mendamaikan kita dan foto tersebar ke mana-mana," katanya.

Namun SF kembali membantah.

"Saya tidak ada cium tangan bapak. Siapa bapak rupanya?" tegasnya.

Dalam persidangan tersebut, Abdul Wahid juga membantah anggapan bahwa dirinya tidak pernah memberikan tugas kepada SF Hariyanto selama menjabat sebagai wakil gubernur.

"Bapak bilang saya tidak pernah kasih tugas. Silakan tanya ke Taufik dan Syahrial Abdi," ujar Wahid.

Ia juga mengaku pernah memberikan izin kepada SF Hariyanto untuk berobat dan tetap menjaga hubungan baik.

"Bapak datang bersama Kapolda, bilang izin berobat. Saya kasih izin dan baik, akrab kepada SF," katanya.

Abdul Wahid kemudian mempertanyakan alasan SF yang disebut merasa tidak dilibatkan dalam pemerintahan.

"Mengapa bapak marah, merasa saya tidak melibatkan bapak?" tanya Wahid.

Namun SF memilih menyerahkan penilaian itu kepada Abdul Wahid.

"Bapak saja yang jawab diri sendiri," jawabnya.

SF selanjutnya mengungkapkan bahwa selama menjabat sebagai wakil gubernur dirinya merasa tidak pernah dilibatkan dalam berbagai proses pengambilan keputusan di lingkungan Pemerintah Provinsi Riau.

"Disposisi surat tidak pernah. Diajak rapat eselon empat tidak pernah. Kenapa tanya kepada saya?" kata SF.

Persidangan juga menyinggung isu penunjukan Sekretaris Daerah (Sekda) Riau. Abdul Wahid mempertanyakan apakah SF pernah menyampaikan kepada ulama Abdul Somad bahwa posisi Sekda harus diisi orang pilihannya.

"Pernah bapak menyampaikan ke UAS bahwa Sekda harus orang bapak?" tanya Wahid.

SF kembali membantah tudingan tersebut.

"Saya tidak pernah. Saya ke sana karena beliau tokoh agama, tolong perbaiki hubungan kami. Jangan saya dipelesetkan," tegas SF.

Menjelang akhir pemeriksaan, Abdul Wahid kembali menanyakan apakah persoalan tersebut menjadi alasan kemarahan SF terhadap dirinya.

"Bukan alasan saya itu," jawab SF.

Ia juga menegaskan bahwa proses demosi maupun mutasi pejabat bukan merupakan keputusan pribadinya, melainkan hasil kerja panitia seleksi.

"Soal demosi bukan soal dari saya karena tim pansel," kata SF Hariyanto.

Persidangan yang berlangsung cukup lama itu beberapa kali diwarnai saling bantah antara terdakwa dan saksi. Dialog keduanya mengungkap dinamika hubungan politik dan pemerintahan yang selama ini jarang muncul ke ruang publik. (rco)

Zona
hukum
Bisnis
Wisata Edukasi di Perpustakaan Soeman HS

Senin, 7 November 2022 | 22:26:22
Mal Pelayanan Publik Kota Pekanbaru

Senin, 7 November 2022 | 22:24:20
nasional
internasional
profil
otomotif
Artikel Pilihan
Sidang Korupsi Abdul Wahid Memanas, Hubungan Retak dengan SF Hariyanto Terungkap di Pengadilan | Redaksi77.co
×
Home /hukum
Sidang Korupsi Abdul Wahid Memanas, Hubungan Retak dengan SF Hariyanto Terungkap di Pengadilan
Editor : adminredaksi77 | Penulis: Rico
Rabu, 3 Juni 2026 | 20:02:16
Plt Gubernur Riau SF Hariyanto dihadirkan sebagai saksi di PN Pekanbaru. (Foto: Rico)

PEKANBARU - Sidang lanjutan perkara dugaan tindak pidana korupsi yang menjerat Gubernur Riau nonaktif Abdul Wahid di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Pekanbaru, Rabu (3/6/2026), berlangsung panas.

Persidangan tidak hanya membahas pokok perkara, tetapi juga membuka secara terang hubungan politik dan pemerintahan antara Abdul Wahid dengan Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Riau SF Hariyanto yang hadir sebagai saksi.

Dalam kesempatan itu, Abdul Wahid dan SF Hariyanto terlibat dialog langsung yang beberapa kali diwarnai saling bantah terkait perjalanan politik keduanya hingga hubungan yang disebut mulai merenggang setelah Pilkada Riau.

Abdul Wahid mengawali pertanyaannya dengan mengungkapkan rasa senang dapat bertemu langsung dengan SF Hariyanto di ruang sidang.

"Saya senang melihat Pak SF ada di sini. Sebelumnya belum pernah ketemu saat OTT," kata Abdul Wahid.

Wahid kemudian mengulas proses pencalonan mereka pada Pilgub Riau. Ia mempertanyakan apakah dirinya pernah meminta secara langsung untuk menjadi gubernur.

Menjawab pertanyaan tersebut, SF Hariyanto menjelaskan bahwa pada awalnya dirinya enggan maju dalam kontestasi politik karena mempertimbangkan etika birokrasi. Saat itu, mantan Gubernur Riau Syamsuar masih berkeinginan maju dalam Pilgub.

"Saya disuruh maju berhadapan dengan kandidat dan Pak Syamsuar ingin maju. Pak Syamsuar atasan saya dan secara etika tidak bagus melawan atasan saya," ujar SF.

Menurut SF, ketika Syamsuar akhirnya tidak maju, dirinya justru meminta Abdul Wahid untuk maju sebagai calon gubernur.

"Di tengah perjalanan Pak Syamsuar tidak maju jadi gubernur. Saya minta Abdul Wahid yang maju," katanya.

"Ya, majulah," lanjut SF menirukan percakapan saat itu.

SF juga menyebut kesepakatan yang kemudian terbentuk adalah Abdul Wahid maju sebagai calon gubernur dan dirinya sebagai calon wakil gubernur.

"Bapak maju dan saya wakil," ujarnya.

Persidangan semakin menarik ketika pembahasan beralih pada hubungan keduanya setelah terpilih memimpin Riau. Abdul Wahid mengungkapkan masih mengingat komunikasi yang terjadi setelah pelantikan, termasuk saat bulan Ramadan ketika SF Hariyanto ingin bertemu dengannya.

"Saya masih ingat, bapak ingin bertemu dengan saya setelah pelantikan. Waktu itu melalui telepon, supaya saya datang ke rumah," kata Wahid.

Namun menurut Wahid, saat itu dirinya meminta agar SF yang datang menemuinya.

Selain membahas hubungan pribadi, Abdul Wahid juga menyinggung dugaan adanya rekaman pemeriksaan dirinya di Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang disebut pernah diperlihatkan SF Hariyanto kepada sejumlah pihak.

"Dia menunjukkan rekaman saya diperiksa KPK. Saya kaget, kok pemeriksaan KPK bisa ada. Itu ditunjukkan ke Arwin dan banyak orang," kata Wahid.

Ia juga menyebut adanya pernyataan yang menurutnya pernah disampaikan SF terkait pengaruh yang dimilikinya.

"Ketua hati-hati, ketua tidak bersih. Tangan saya di mana-mana, di KPK ada," ujar Wahid mengutip dugaan ucapan tersebut.

Namun SF Hariyanto secara tegas membantah tudingan itu.

"Tidak benar saya ucapkan itu," jawabnya.

Abdul Wahid kembali mengajukan pertanyaan terkait dugaan pernyataan lain yang disebut pernah disampaikan SF.

"Ketua jangan macam-macam dengan saya, saya otaknya kotor. Pernah bilang itu?" tanya Wahid.

"Tidak pernah," jawab SF.

Suasana sidang sempat memanas ketika Abdul Wahid menanyakan soal permintaan maaf yang disebut pernah dilakukan SF Hariyanto kepadanya.

"Berapa kali bapak minta maaf ke saya dan cium tangan saya?" tanya Wahid.

Mendengar pertanyaan itu, SF langsung bereaksi.

"Siapa bapak kiranya?" jawab SF.

Wahid kemudian mengungkit pertemuan yang difasilitasi Kapolda Riau untuk mendamaikan keduanya.

"Waktu Kapolda mendamaikan kita dan foto tersebar ke mana-mana," katanya.

Namun SF kembali membantah.

"Saya tidak ada cium tangan bapak. Siapa bapak rupanya?" tegasnya.

Dalam persidangan tersebut, Abdul Wahid juga membantah anggapan bahwa dirinya tidak pernah memberikan tugas kepada SF Hariyanto selama menjabat sebagai wakil gubernur.

"Bapak bilang saya tidak pernah kasih tugas. Silakan tanya ke Taufik dan Syahrial Abdi," ujar Wahid.

Ia juga mengaku pernah memberikan izin kepada SF Hariyanto untuk berobat dan tetap menjaga hubungan baik.

"Bapak datang bersama Kapolda, bilang izin berobat. Saya kasih izin dan baik, akrab kepada SF," katanya.

Abdul Wahid kemudian mempertanyakan alasan SF yang disebut merasa tidak dilibatkan dalam pemerintahan.

"Mengapa bapak marah, merasa saya tidak melibatkan bapak?" tanya Wahid.

Namun SF memilih menyerahkan penilaian itu kepada Abdul Wahid.

"Bapak saja yang jawab diri sendiri," jawabnya.

SF selanjutnya mengungkapkan bahwa selama menjabat sebagai wakil gubernur dirinya merasa tidak pernah dilibatkan dalam berbagai proses pengambilan keputusan di lingkungan Pemerintah Provinsi Riau.

"Disposisi surat tidak pernah. Diajak rapat eselon empat tidak pernah. Kenapa tanya kepada saya?" kata SF.

Persidangan juga menyinggung isu penunjukan Sekretaris Daerah (Sekda) Riau. Abdul Wahid mempertanyakan apakah SF pernah menyampaikan kepada ulama Abdul Somad bahwa posisi Sekda harus diisi orang pilihannya.

"Pernah bapak menyampaikan ke UAS bahwa Sekda harus orang bapak?" tanya Wahid.

SF kembali membantah tudingan tersebut.

"Saya tidak pernah. Saya ke sana karena beliau tokoh agama, tolong perbaiki hubungan kami. Jangan saya dipelesetkan," tegas SF.

Menjelang akhir pemeriksaan, Abdul Wahid kembali menanyakan apakah persoalan tersebut menjadi alasan kemarahan SF terhadap dirinya.

"Bukan alasan saya itu," jawab SF.

Ia juga menegaskan bahwa proses demosi maupun mutasi pejabat bukan merupakan keputusan pribadinya, melainkan hasil kerja panitia seleksi.

"Soal demosi bukan soal dari saya karena tim pansel," kata SF Hariyanto.

Persidangan yang berlangsung cukup lama itu beberapa kali diwarnai saling bantah antara terdakwa dan saksi. Dialog keduanya mengungkap dinamika hubungan politik dan pemerintahan yang selama ini jarang muncul ke ruang publik. (rco)

Pilihan Editor
Artikel Populer
Wisata Edukasi di Perpustakaan Soeman HS
Mal Pelayanan Publik Kota Pekanbaru
Investasi Kawasan Industri Tenayan Pekanbaru
Protokol Isolasi Mandiri