
| |
Laporan Dicabut, Polda Riau Pastikan Kasus Dugaan Penganiayaan Mahasiswa Tetap Diproses
Selasa, 14 Juli 2026 | 19:17:18 |
|---|
| |
Gudang Narkoba di Pekanbaru Digerebek, Kurir Ditangkap dengan 4 Kg Sabu dan Puluhan Ribu Ekstasi
Jumat, 24 Juli 2026 | 10:24:11 |
|---|
| |
Truk Bermuatan 40 Ton Lintasi Jalan Kelas III, Fahrizal Minta Izin PT Ekasapta Paramita Energi Dicabut
Jumat, 24 Juli 2026 | 10:21:31 |
|---|
| |
Bacakan Pledoi: Abdul Wahid Bantah Semua Dakwaan JPU, Klaim Tak Pernah Memeras dan Minta Uang
Senin, 20 Juli 2026 | 19:47:31 |
|---|
| |
Dokter Magang Ditemukan Tewas di Samping RSUD Siak, Polisi Selidiki Penyebab Kematian
Selasa, 14 Juli 2026 | 19:14:29 |
|---|
| |
Jaksa Tak Ajukan Replik Tertulis atas Pledoi Dani Nursalam, Sidang Vonis Dijadwalkan 30 Juli
Rabu, 22 Juli 2026 | 18:32:46 |
|---|
PEKANBARU - Sidang lanjutan perkara dugaan tindak pidana korupsi yang menjerat Gubernur Riau nonaktif Abdul Wahid di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Pekanbaru, Rabu (3/6/2026), berlangsung panas.
Persidangan tidak hanya membahas pokok perkara, tetapi juga membuka secara terang hubungan politik dan pemerintahan antara Abdul Wahid dengan Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Riau SF Hariyanto yang hadir sebagai saksi.
Dalam kesempatan itu, Abdul Wahid dan SF Hariyanto terlibat dialog langsung yang beberapa kali diwarnai saling bantah terkait perjalanan politik keduanya hingga hubungan yang disebut mulai merenggang setelah Pilkada Riau.
Abdul Wahid mengawali pertanyaannya dengan mengungkapkan rasa senang dapat bertemu langsung dengan SF Hariyanto di ruang sidang.
"Saya senang melihat Pak SF ada di sini. Sebelumnya belum pernah ketemu saat OTT," kata Abdul Wahid.
Wahid kemudian mengulas proses pencalonan mereka pada Pilgub Riau. Ia mempertanyakan apakah dirinya pernah meminta secara langsung untuk menjadi gubernur.
Menjawab pertanyaan tersebut, SF Hariyanto menjelaskan bahwa pada awalnya dirinya enggan maju dalam kontestasi politik karena mempertimbangkan etika birokrasi. Saat itu, mantan Gubernur Riau Syamsuar masih berkeinginan maju dalam Pilgub.
"Saya disuruh maju berhadapan dengan kandidat dan Pak Syamsuar ingin maju. Pak Syamsuar atasan saya dan secara etika tidak bagus melawan atasan saya," ujar SF.
Menurut SF, ketika Syamsuar akhirnya tidak maju, dirinya justru meminta Abdul Wahid untuk maju sebagai calon gubernur.
"Di tengah perjalanan Pak Syamsuar tidak maju jadi gubernur. Saya minta Abdul Wahid yang maju," katanya.
"Ya, majulah," lanjut SF menirukan percakapan saat itu.
SF juga menyebut kesepakatan yang kemudian terbentuk adalah Abdul Wahid maju sebagai calon gubernur dan dirinya sebagai calon wakil gubernur.
"Bapak maju dan saya wakil," ujarnya.
Persidangan semakin menarik ketika pembahasan beralih pada hubungan keduanya setelah terpilih memimpin Riau. Abdul Wahid mengungkapkan masih mengingat komunikasi yang terjadi setelah pelantikan, termasuk saat bulan Ramadan ketika SF Hariyanto ingin bertemu dengannya.
"Saya masih ingat, bapak ingin bertemu dengan saya setelah pelantikan. Waktu itu melalui telepon, supaya saya datang ke rumah," kata Wahid.
Namun menurut Wahid, saat itu dirinya meminta agar SF yang datang menemuinya.
Selain membahas hubungan pribadi, Abdul Wahid juga menyinggung dugaan adanya rekaman pemeriksaan dirinya di Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang disebut pernah diperlihatkan SF Hariyanto kepada sejumlah pihak.
"Dia menunjukkan rekaman saya diperiksa KPK. Saya kaget, kok pemeriksaan KPK bisa ada. Itu ditunjukkan ke Arwin dan banyak orang," kata Wahid.
Ia juga menyebut adanya pernyataan yang menurutnya pernah disampaikan SF terkait pengaruh yang dimilikinya.
"Ketua hati-hati, ketua tidak bersih. Tangan saya di mana-mana, di KPK ada," ujar Wahid mengutip dugaan ucapan tersebut.
Namun SF Hariyanto secara tegas membantah tudingan itu.
"Tidak benar saya ucapkan itu," jawabnya.
Abdul Wahid kembali mengajukan pertanyaan terkait dugaan pernyataan lain yang disebut pernah disampaikan SF.
"Ketua jangan macam-macam dengan saya, saya otaknya kotor. Pernah bilang itu?" tanya Wahid.
"Tidak pernah," jawab SF.
Suasana sidang sempat memanas ketika Abdul Wahid menanyakan soal permintaan maaf yang disebut pernah dilakukan SF Hariyanto kepadanya.
"Berapa kali bapak minta maaf ke saya dan cium tangan saya?" tanya Wahid.
Mendengar pertanyaan itu, SF langsung bereaksi.
"Siapa bapak kiranya?" jawab SF.
Wahid kemudian mengungkit pertemuan yang difasilitasi Kapolda Riau untuk mendamaikan keduanya.
"Waktu Kapolda mendamaikan kita dan foto tersebar ke mana-mana," katanya.
Namun SF kembali membantah.
"Saya tidak ada cium tangan bapak. Siapa bapak rupanya?" tegasnya.
Dalam persidangan tersebut, Abdul Wahid juga membantah anggapan bahwa dirinya tidak pernah memberikan tugas kepada SF Hariyanto selama menjabat sebagai wakil gubernur.
"Bapak bilang saya tidak pernah kasih tugas. Silakan tanya ke Taufik dan Syahrial Abdi," ujar Wahid.
Ia juga mengaku pernah memberikan izin kepada SF Hariyanto untuk berobat dan tetap menjaga hubungan baik.
"Bapak datang bersama Kapolda, bilang izin berobat. Saya kasih izin dan baik, akrab kepada SF," katanya.
Abdul Wahid kemudian mempertanyakan alasan SF yang disebut merasa tidak dilibatkan dalam pemerintahan.
"Mengapa bapak marah, merasa saya tidak melibatkan bapak?" tanya Wahid.
Namun SF memilih menyerahkan penilaian itu kepada Abdul Wahid.
"Bapak saja yang jawab diri sendiri," jawabnya.
SF selanjutnya mengungkapkan bahwa selama menjabat sebagai wakil gubernur dirinya merasa tidak pernah dilibatkan dalam berbagai proses pengambilan keputusan di lingkungan Pemerintah Provinsi Riau.
"Disposisi surat tidak pernah. Diajak rapat eselon empat tidak pernah. Kenapa tanya kepada saya?" kata SF.
Persidangan juga menyinggung isu penunjukan Sekretaris Daerah (Sekda) Riau. Abdul Wahid mempertanyakan apakah SF pernah menyampaikan kepada ulama Abdul Somad bahwa posisi Sekda harus diisi orang pilihannya.
"Pernah bapak menyampaikan ke UAS bahwa Sekda harus orang bapak?" tanya Wahid.
SF kembali membantah tudingan tersebut.
"Saya tidak pernah. Saya ke sana karena beliau tokoh agama, tolong perbaiki hubungan kami. Jangan saya dipelesetkan," tegas SF.
Menjelang akhir pemeriksaan, Abdul Wahid kembali menanyakan apakah persoalan tersebut menjadi alasan kemarahan SF terhadap dirinya.
"Bukan alasan saya itu," jawab SF.
Ia juga menegaskan bahwa proses demosi maupun mutasi pejabat bukan merupakan keputusan pribadinya, melainkan hasil kerja panitia seleksi.
"Soal demosi bukan soal dari saya karena tim pansel," kata SF Hariyanto.
Persidangan yang berlangsung cukup lama itu beberapa kali diwarnai saling bantah antara terdakwa dan saksi. Dialog keduanya mengungkap dinamika hubungan politik dan pemerintahan yang selama ini jarang muncul ke ruang publik. (rco)
| |
AMPLANG, KULINER KHAS INHIL - PESONA WISATA KULINER
Kamis, 2 Maret 2023 | 21:37:48 |
|---|
| |
Wisata Edukasi di Perpustakaan Soeman HS
Senin, 7 November 2022 | 22:26:22 |
|---|
| |
Mal Pelayanan Publik Kota Pekanbaru
Senin, 7 November 2022 | 22:24:20 |
|---|
| ☰ | |
×
|
|---|
PEKANBARU - Sidang lanjutan perkara dugaan tindak pidana korupsi yang menjerat Gubernur Riau nonaktif Abdul Wahid di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Pekanbaru, Rabu (3/6/2026), berlangsung panas.
Persidangan tidak hanya membahas pokok perkara, tetapi juga membuka secara terang hubungan politik dan pemerintahan antara Abdul Wahid dengan Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Riau SF Hariyanto yang hadir sebagai saksi.
Dalam kesempatan itu, Abdul Wahid dan SF Hariyanto terlibat dialog langsung yang beberapa kali diwarnai saling bantah terkait perjalanan politik keduanya hingga hubungan yang disebut mulai merenggang setelah Pilkada Riau.
Abdul Wahid mengawali pertanyaannya dengan mengungkapkan rasa senang dapat bertemu langsung dengan SF Hariyanto di ruang sidang.
"Saya senang melihat Pak SF ada di sini. Sebelumnya belum pernah ketemu saat OTT," kata Abdul Wahid.
Wahid kemudian mengulas proses pencalonan mereka pada Pilgub Riau. Ia mempertanyakan apakah dirinya pernah meminta secara langsung untuk menjadi gubernur.
Menjawab pertanyaan tersebut, SF Hariyanto menjelaskan bahwa pada awalnya dirinya enggan maju dalam kontestasi politik karena mempertimbangkan etika birokrasi. Saat itu, mantan Gubernur Riau Syamsuar masih berkeinginan maju dalam Pilgub.
"Saya disuruh maju berhadapan dengan kandidat dan Pak Syamsuar ingin maju. Pak Syamsuar atasan saya dan secara etika tidak bagus melawan atasan saya," ujar SF.
Menurut SF, ketika Syamsuar akhirnya tidak maju, dirinya justru meminta Abdul Wahid untuk maju sebagai calon gubernur.
"Di tengah perjalanan Pak Syamsuar tidak maju jadi gubernur. Saya minta Abdul Wahid yang maju," katanya.
"Ya, majulah," lanjut SF menirukan percakapan saat itu.
SF juga menyebut kesepakatan yang kemudian terbentuk adalah Abdul Wahid maju sebagai calon gubernur dan dirinya sebagai calon wakil gubernur.
"Bapak maju dan saya wakil," ujarnya.
Persidangan semakin menarik ketika pembahasan beralih pada hubungan keduanya setelah terpilih memimpin Riau. Abdul Wahid mengungkapkan masih mengingat komunikasi yang terjadi setelah pelantikan, termasuk saat bulan Ramadan ketika SF Hariyanto ingin bertemu dengannya.
"Saya masih ingat, bapak ingin bertemu dengan saya setelah pelantikan. Waktu itu melalui telepon, supaya saya datang ke rumah," kata Wahid.
Namun menurut Wahid, saat itu dirinya meminta agar SF yang datang menemuinya.
Selain membahas hubungan pribadi, Abdul Wahid juga menyinggung dugaan adanya rekaman pemeriksaan dirinya di Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang disebut pernah diperlihatkan SF Hariyanto kepada sejumlah pihak.
"Dia menunjukkan rekaman saya diperiksa KPK. Saya kaget, kok pemeriksaan KPK bisa ada. Itu ditunjukkan ke Arwin dan banyak orang," kata Wahid.
Ia juga menyebut adanya pernyataan yang menurutnya pernah disampaikan SF terkait pengaruh yang dimilikinya.
"Ketua hati-hati, ketua tidak bersih. Tangan saya di mana-mana, di KPK ada," ujar Wahid mengutip dugaan ucapan tersebut.
Namun SF Hariyanto secara tegas membantah tudingan itu.
"Tidak benar saya ucapkan itu," jawabnya.
Abdul Wahid kembali mengajukan pertanyaan terkait dugaan pernyataan lain yang disebut pernah disampaikan SF.
"Ketua jangan macam-macam dengan saya, saya otaknya kotor. Pernah bilang itu?" tanya Wahid.
"Tidak pernah," jawab SF.
Suasana sidang sempat memanas ketika Abdul Wahid menanyakan soal permintaan maaf yang disebut pernah dilakukan SF Hariyanto kepadanya.
"Berapa kali bapak minta maaf ke saya dan cium tangan saya?" tanya Wahid.
Mendengar pertanyaan itu, SF langsung bereaksi.
"Siapa bapak kiranya?" jawab SF.
Wahid kemudian mengungkit pertemuan yang difasilitasi Kapolda Riau untuk mendamaikan keduanya.
"Waktu Kapolda mendamaikan kita dan foto tersebar ke mana-mana," katanya.
Namun SF kembali membantah.
"Saya tidak ada cium tangan bapak. Siapa bapak rupanya?" tegasnya.
Dalam persidangan tersebut, Abdul Wahid juga membantah anggapan bahwa dirinya tidak pernah memberikan tugas kepada SF Hariyanto selama menjabat sebagai wakil gubernur.
"Bapak bilang saya tidak pernah kasih tugas. Silakan tanya ke Taufik dan Syahrial Abdi," ujar Wahid.
Ia juga mengaku pernah memberikan izin kepada SF Hariyanto untuk berobat dan tetap menjaga hubungan baik.
"Bapak datang bersama Kapolda, bilang izin berobat. Saya kasih izin dan baik, akrab kepada SF," katanya.
Abdul Wahid kemudian mempertanyakan alasan SF yang disebut merasa tidak dilibatkan dalam pemerintahan.
"Mengapa bapak marah, merasa saya tidak melibatkan bapak?" tanya Wahid.
Namun SF memilih menyerahkan penilaian itu kepada Abdul Wahid.
"Bapak saja yang jawab diri sendiri," jawabnya.
SF selanjutnya mengungkapkan bahwa selama menjabat sebagai wakil gubernur dirinya merasa tidak pernah dilibatkan dalam berbagai proses pengambilan keputusan di lingkungan Pemerintah Provinsi Riau.
"Disposisi surat tidak pernah. Diajak rapat eselon empat tidak pernah. Kenapa tanya kepada saya?" kata SF.
Persidangan juga menyinggung isu penunjukan Sekretaris Daerah (Sekda) Riau. Abdul Wahid mempertanyakan apakah SF pernah menyampaikan kepada ulama Abdul Somad bahwa posisi Sekda harus diisi orang pilihannya.
"Pernah bapak menyampaikan ke UAS bahwa Sekda harus orang bapak?" tanya Wahid.
SF kembali membantah tudingan tersebut.
"Saya tidak pernah. Saya ke sana karena beliau tokoh agama, tolong perbaiki hubungan kami. Jangan saya dipelesetkan," tegas SF.
Menjelang akhir pemeriksaan, Abdul Wahid kembali menanyakan apakah persoalan tersebut menjadi alasan kemarahan SF terhadap dirinya.
"Bukan alasan saya itu," jawab SF.
Ia juga menegaskan bahwa proses demosi maupun mutasi pejabat bukan merupakan keputusan pribadinya, melainkan hasil kerja panitia seleksi.
"Soal demosi bukan soal dari saya karena tim pansel," kata SF Hariyanto.
Persidangan yang berlangsung cukup lama itu beberapa kali diwarnai saling bantah antara terdakwa dan saksi. Dialog keduanya mengungkap dinamika hubungan politik dan pemerintahan yang selama ini jarang muncul ke ruang publik. (rco)
| |
Transaksi Narkoba di Pelalawan Digerebek,...
Jumat, 7 Agustus 2026 | 22:26:29
|
|---|
| |
Cair Mulai Hari Ini, 490 Pemda Bersiap Terima...
Jumat, 7 Agustus 2026 | 22:19:14
|
|---|
| |
Polda Riau Tangkap 6 Penambang Emas Ilegal di...
Jumat, 7 Agustus 2026 | 22:13:34
|
|---|
| |
Padang Dikepung Banjir: Ketinggian Air 1,5 Meter,...
Senin, 3 Agustus 2026 | 20:11:19
|
|---|
| Transaksi Narkoba di Pelalawan Digerebek, Tersangka Panik dan Buang "BB' Sabu ke Belakang Pondok
Jumat, 7 Agustus 2026 | 22:26:29
|
|
|---|
| Cair Mulai Hari Ini, 490 Pemda Bersiap Terima Dana Bantuan Pusat dengan Total Rp20,5 Triliun
Jumat, 7 Agustus 2026 | 22:19:14
|
|
|---|
| Dua Pelaku Curanmor Spesialis Kos-kosan Diringkus Reskrim Polsek Sukajadi
Jumat, 7 Agustus 2026 | 22:15:55
|
|
|---|
| Polda Riau Tangkap 6 Penambang Emas Ilegal di Kuansing, Pemodal Diburu
Jumat, 7 Agustus 2026 | 22:13:34
|
|
|---|
| Padang Dikepung Banjir: Ketinggian Air 1,5 Meter, Warga Terjebak, Evakuasi Terus Berlangsung
Senin, 3 Agustus 2026 | 20:11:19
|
|
|---|
| Transaksi Narkoba di Pelalawan Digerebek, Tersangka Panik dan Buang "BB' Sabu ke Belakang Pondok
Jumat, 7 Agustus 2026 | 22:26:29
|
|
|---|
| Cair Mulai Hari Ini, 490 Pemda Bersiap Terima Dana Bantuan Pusat dengan Total Rp20,5 Triliun
Jumat, 7 Agustus 2026 | 22:19:14
|
|
|---|
| Dua Pelaku Curanmor Spesialis Kos-kosan Diringkus Reskrim Polsek Sukajadi
Jumat, 7 Agustus 2026 | 22:15:55
|
|
|---|
| Polda Riau Tangkap 6 Penambang Emas Ilegal di Kuansing, Pemodal Diburu
Jumat, 7 Agustus 2026 | 22:13:34
|
|
|---|
| VIRAL, Motor Nyasar Masuk Tol Pekanbaru-Dumai, Polisi: Pengendara Diduga Alami Gangguan
Senin, 3 Agustus 2026 | 20:05:24
|
|---|
| Padang Dikepung Banjir: Ketinggian Air 1,5 Meter, Warga Terjebak, Evakuasi Terus Berlangsung
Senin, 3 Agustus 2026 | 20:11:19
|
|---|
| Motor Petani di Pelalawan Dicuri Saat Subuh, Polisi Tangkap Satu Pelaku dan Kejar Rekannya
Senin, 3 Agustus 2026 | 20:08:06
|
|---|
| Transaksi Narkoba di Pelalawan Digerebek, Tersangka Panik dan Buang "BB' Sabu ke Belakang Pondok
Jumat, 7 Agustus 2026 | 22:26:29
|
|---|
| Motor Petani di Pelalawan Dicuri Saat Subuh, Polisi Tangkap Satu Pelaku dan Kejar Rekannya
Senin, 3 Agustus 2026 | 20:08:06
|
|
|---|
| VIRAL, Motor Nyasar Masuk Tol Pekanbaru-Dumai, Polisi: Pengendara Diduga Alami Gangguan
Senin, 3 Agustus 2026 | 20:05:24
|
|
|---|
| Divonis 2 Tahun, Arief Setiawan Pikir-pikir Banding, Dani Nursalam Langsung Terima Putusan
Kamis, 30 Juli 2026 | 18:31:16
|
|
|---|
| Terbukti Bersalah, Abdul Wahid Divonis 2 Tahun Penjara dan Denda Rp200 Juta
Kamis, 30 Juli 2026 | 18:27:14
|
|
|---|
| Dani M Nursalam Divonis 2 Tahun, Kuasa Hukum: Keterangan sebagai Saksi Mahkota Terbukti
Kamis, 30 Juli 2026 | 18:23:34
|
|
|---|
Wisata Edukasi di Perpustakaan Soeman HS |
Mal Pelayanan Publik Kota Pekanbaru |
|---|---|
Investasi Kawasan Industri Tenayan Pekanbaru
| Protokol Isolasi Mandiri |
| Pengakuan Tersangka Narkoba: Napi Kabur Diduga Rutin Keluar Lapas, Sipir Disebut Terima Rp30 Juta per Bulan
Senin, 27 Juli 2026 | 20:55:36
|
|
|---|
| Napi Kabur dari Lapas Pekanbaru Diduga "Otak" Penyelundupan Sabu di Bandara SSK II
Senin, 27 Juli 2026 | 20:51:59
|
|
|---|
| Gudang Narkoba di Pekanbaru Digerebek, Kurir Ditangkap dengan 4 Kg Sabu dan Puluhan Ribu Ekstasi
Jumat, 24 Juli 2026 | 10:24:11
|
|
|---|
| Truk Bermuatan 40 Ton Lintasi Jalan Kelas III, Fahrizal Minta Izin PT Ekasapta Paramita Energi Dicabut
Jumat, 24 Juli 2026 | 10:21:31
|
|
|---|
| Pelajar Tewas Usai Perkelahian di Pekanbaru, Keluarga Desak Polda Riau Percepat Penyidikan
Rabu, 22 Juli 2026 | 18:36:41
|
|
|---|