
| |
JPU Meyer Volmar Simanjuntak Soroti Kesaksian UAS, Sebut Tak Berkaitan Langsung dengan Dakwaan Abdul Wahid
Kamis, 18 Juni 2026 | 22:50:55 |
|---|
| |
Aklamasi Penuh Kepercayaan, Maxaxai Indra Kembali Pimpin APHTN-HAN Riau
Selasa, 16 Juni 2026 | 13:28:36 |
|---|
| |
Bantu Saudara Serantau, Lumpo Sapayuang Riau Sukses Gelar Sunatan Massal Gratis Perdana
Minggu, 21 Juni 2026 | 16:27:43 |
|---|
| |
Dodi Nefeldi Masuk Nominasi Public Aspiration JMSI Award, Dinilai Konsisten Perjuangkan Suara Rakyat
Rabu, 24 Juni 2026 | 23:02:58 |
|---|
| |
JMSI Riau Anugerahi "Green Legacy Award" untuk Kapolda Herry Heryawan: Saya Hanya Menjalankan Tugas
Selasa, 23 Juni 2026 | 18:53:44 |
|---|
| |
Wako Pekanbaru dan Bupati Kuansing Akan Terima JMSI Riau Award 2026, HUT ke-6 JMSI Dimeriahkan Baca Puisi
Rabu, 17 Juni 2026 | 19:16:30 |
|---|
PEKANBARU - Sidang lanjutan perkara dugaan tindak pidana korupsi yang menjerat Gubernur Riau nonaktif Abdul Wahid di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Pekanbaru, Rabu (3/6/2026), berlangsung panas.
Persidangan tidak hanya membahas pokok perkara, tetapi juga membuka secara terang hubungan politik dan pemerintahan antara Abdul Wahid dengan Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Riau SF Hariyanto yang hadir sebagai saksi.
Dalam kesempatan itu, Abdul Wahid dan SF Hariyanto terlibat dialog langsung yang beberapa kali diwarnai saling bantah terkait perjalanan politik keduanya hingga hubungan yang disebut mulai merenggang setelah Pilkada Riau.
Abdul Wahid mengawali pertanyaannya dengan mengungkapkan rasa senang dapat bertemu langsung dengan SF Hariyanto di ruang sidang.
"Saya senang melihat Pak SF ada di sini. Sebelumnya belum pernah ketemu saat OTT," kata Abdul Wahid.
Wahid kemudian mengulas proses pencalonan mereka pada Pilgub Riau. Ia mempertanyakan apakah dirinya pernah meminta secara langsung untuk menjadi gubernur.
Menjawab pertanyaan tersebut, SF Hariyanto menjelaskan bahwa pada awalnya dirinya enggan maju dalam kontestasi politik karena mempertimbangkan etika birokrasi. Saat itu, mantan Gubernur Riau Syamsuar masih berkeinginan maju dalam Pilgub.
"Saya disuruh maju berhadapan dengan kandidat dan Pak Syamsuar ingin maju. Pak Syamsuar atasan saya dan secara etika tidak bagus melawan atasan saya," ujar SF.
Menurut SF, ketika Syamsuar akhirnya tidak maju, dirinya justru meminta Abdul Wahid untuk maju sebagai calon gubernur.
"Di tengah perjalanan Pak Syamsuar tidak maju jadi gubernur. Saya minta Abdul Wahid yang maju," katanya.
"Ya, majulah," lanjut SF menirukan percakapan saat itu.
SF juga menyebut kesepakatan yang kemudian terbentuk adalah Abdul Wahid maju sebagai calon gubernur dan dirinya sebagai calon wakil gubernur.
"Bapak maju dan saya wakil," ujarnya.
Persidangan semakin menarik ketika pembahasan beralih pada hubungan keduanya setelah terpilih memimpin Riau. Abdul Wahid mengungkapkan masih mengingat komunikasi yang terjadi setelah pelantikan, termasuk saat bulan Ramadan ketika SF Hariyanto ingin bertemu dengannya.
"Saya masih ingat, bapak ingin bertemu dengan saya setelah pelantikan. Waktu itu melalui telepon, supaya saya datang ke rumah," kata Wahid.
Namun menurut Wahid, saat itu dirinya meminta agar SF yang datang menemuinya.
Selain membahas hubungan pribadi, Abdul Wahid juga menyinggung dugaan adanya rekaman pemeriksaan dirinya di Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang disebut pernah diperlihatkan SF Hariyanto kepada sejumlah pihak.
"Dia menunjukkan rekaman saya diperiksa KPK. Saya kaget, kok pemeriksaan KPK bisa ada. Itu ditunjukkan ke Arwin dan banyak orang," kata Wahid.
Ia juga menyebut adanya pernyataan yang menurutnya pernah disampaikan SF terkait pengaruh yang dimilikinya.
"Ketua hati-hati, ketua tidak bersih. Tangan saya di mana-mana, di KPK ada," ujar Wahid mengutip dugaan ucapan tersebut.
Namun SF Hariyanto secara tegas membantah tudingan itu.
"Tidak benar saya ucapkan itu," jawabnya.
Abdul Wahid kembali mengajukan pertanyaan terkait dugaan pernyataan lain yang disebut pernah disampaikan SF.
"Ketua jangan macam-macam dengan saya, saya otaknya kotor. Pernah bilang itu?" tanya Wahid.
"Tidak pernah," jawab SF.
Suasana sidang sempat memanas ketika Abdul Wahid menanyakan soal permintaan maaf yang disebut pernah dilakukan SF Hariyanto kepadanya.
"Berapa kali bapak minta maaf ke saya dan cium tangan saya?" tanya Wahid.
Mendengar pertanyaan itu, SF langsung bereaksi.
"Siapa bapak kiranya?" jawab SF.
Wahid kemudian mengungkit pertemuan yang difasilitasi Kapolda Riau untuk mendamaikan keduanya.
"Waktu Kapolda mendamaikan kita dan foto tersebar ke mana-mana," katanya.
Namun SF kembali membantah.
"Saya tidak ada cium tangan bapak. Siapa bapak rupanya?" tegasnya.
Dalam persidangan tersebut, Abdul Wahid juga membantah anggapan bahwa dirinya tidak pernah memberikan tugas kepada SF Hariyanto selama menjabat sebagai wakil gubernur.
"Bapak bilang saya tidak pernah kasih tugas. Silakan tanya ke Taufik dan Syahrial Abdi," ujar Wahid.
Ia juga mengaku pernah memberikan izin kepada SF Hariyanto untuk berobat dan tetap menjaga hubungan baik.
"Bapak datang bersama Kapolda, bilang izin berobat. Saya kasih izin dan baik, akrab kepada SF," katanya.
Abdul Wahid kemudian mempertanyakan alasan SF yang disebut merasa tidak dilibatkan dalam pemerintahan.
"Mengapa bapak marah, merasa saya tidak melibatkan bapak?" tanya Wahid.
Namun SF memilih menyerahkan penilaian itu kepada Abdul Wahid.
"Bapak saja yang jawab diri sendiri," jawabnya.
SF selanjutnya mengungkapkan bahwa selama menjabat sebagai wakil gubernur dirinya merasa tidak pernah dilibatkan dalam berbagai proses pengambilan keputusan di lingkungan Pemerintah Provinsi Riau.
"Disposisi surat tidak pernah. Diajak rapat eselon empat tidak pernah. Kenapa tanya kepada saya?" kata SF.
Persidangan juga menyinggung isu penunjukan Sekretaris Daerah (Sekda) Riau. Abdul Wahid mempertanyakan apakah SF pernah menyampaikan kepada ulama Abdul Somad bahwa posisi Sekda harus diisi orang pilihannya.
"Pernah bapak menyampaikan ke UAS bahwa Sekda harus orang bapak?" tanya Wahid.
SF kembali membantah tudingan tersebut.
"Saya tidak pernah. Saya ke sana karena beliau tokoh agama, tolong perbaiki hubungan kami. Jangan saya dipelesetkan," tegas SF.
Menjelang akhir pemeriksaan, Abdul Wahid kembali menanyakan apakah persoalan tersebut menjadi alasan kemarahan SF terhadap dirinya.
"Bukan alasan saya itu," jawab SF.
Ia juga menegaskan bahwa proses demosi maupun mutasi pejabat bukan merupakan keputusan pribadinya, melainkan hasil kerja panitia seleksi.
"Soal demosi bukan soal dari saya karena tim pansel," kata SF Hariyanto.
Persidangan yang berlangsung cukup lama itu beberapa kali diwarnai saling bantah antara terdakwa dan saksi. Dialog keduanya mengungkap dinamika hubungan politik dan pemerintahan yang selama ini jarang muncul ke ruang publik. (rco)
| |
AMPLANG, KULINER KHAS INHIL - PESONA WISATA KULINER
Kamis, 2 Maret 2023 | 21:37:48 |
|---|
| |
Wisata Edukasi di Perpustakaan Soeman HS
Senin, 7 November 2022 | 22:26:22 |
|---|
| |
Mal Pelayanan Publik Kota Pekanbaru
Senin, 7 November 2022 | 22:24:20 |
|---|
| ☰ | |
×
|
|---|
PEKANBARU - Sidang lanjutan perkara dugaan tindak pidana korupsi yang menjerat Gubernur Riau nonaktif Abdul Wahid di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Pekanbaru, Rabu (3/6/2026), berlangsung panas.
Persidangan tidak hanya membahas pokok perkara, tetapi juga membuka secara terang hubungan politik dan pemerintahan antara Abdul Wahid dengan Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Riau SF Hariyanto yang hadir sebagai saksi.
Dalam kesempatan itu, Abdul Wahid dan SF Hariyanto terlibat dialog langsung yang beberapa kali diwarnai saling bantah terkait perjalanan politik keduanya hingga hubungan yang disebut mulai merenggang setelah Pilkada Riau.
Abdul Wahid mengawali pertanyaannya dengan mengungkapkan rasa senang dapat bertemu langsung dengan SF Hariyanto di ruang sidang.
"Saya senang melihat Pak SF ada di sini. Sebelumnya belum pernah ketemu saat OTT," kata Abdul Wahid.
Wahid kemudian mengulas proses pencalonan mereka pada Pilgub Riau. Ia mempertanyakan apakah dirinya pernah meminta secara langsung untuk menjadi gubernur.
Menjawab pertanyaan tersebut, SF Hariyanto menjelaskan bahwa pada awalnya dirinya enggan maju dalam kontestasi politik karena mempertimbangkan etika birokrasi. Saat itu, mantan Gubernur Riau Syamsuar masih berkeinginan maju dalam Pilgub.
"Saya disuruh maju berhadapan dengan kandidat dan Pak Syamsuar ingin maju. Pak Syamsuar atasan saya dan secara etika tidak bagus melawan atasan saya," ujar SF.
Menurut SF, ketika Syamsuar akhirnya tidak maju, dirinya justru meminta Abdul Wahid untuk maju sebagai calon gubernur.
"Di tengah perjalanan Pak Syamsuar tidak maju jadi gubernur. Saya minta Abdul Wahid yang maju," katanya.
"Ya, majulah," lanjut SF menirukan percakapan saat itu.
SF juga menyebut kesepakatan yang kemudian terbentuk adalah Abdul Wahid maju sebagai calon gubernur dan dirinya sebagai calon wakil gubernur.
"Bapak maju dan saya wakil," ujarnya.
Persidangan semakin menarik ketika pembahasan beralih pada hubungan keduanya setelah terpilih memimpin Riau. Abdul Wahid mengungkapkan masih mengingat komunikasi yang terjadi setelah pelantikan, termasuk saat bulan Ramadan ketika SF Hariyanto ingin bertemu dengannya.
"Saya masih ingat, bapak ingin bertemu dengan saya setelah pelantikan. Waktu itu melalui telepon, supaya saya datang ke rumah," kata Wahid.
Namun menurut Wahid, saat itu dirinya meminta agar SF yang datang menemuinya.
Selain membahas hubungan pribadi, Abdul Wahid juga menyinggung dugaan adanya rekaman pemeriksaan dirinya di Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang disebut pernah diperlihatkan SF Hariyanto kepada sejumlah pihak.
"Dia menunjukkan rekaman saya diperiksa KPK. Saya kaget, kok pemeriksaan KPK bisa ada. Itu ditunjukkan ke Arwin dan banyak orang," kata Wahid.
Ia juga menyebut adanya pernyataan yang menurutnya pernah disampaikan SF terkait pengaruh yang dimilikinya.
"Ketua hati-hati, ketua tidak bersih. Tangan saya di mana-mana, di KPK ada," ujar Wahid mengutip dugaan ucapan tersebut.
Namun SF Hariyanto secara tegas membantah tudingan itu.
"Tidak benar saya ucapkan itu," jawabnya.
Abdul Wahid kembali mengajukan pertanyaan terkait dugaan pernyataan lain yang disebut pernah disampaikan SF.
"Ketua jangan macam-macam dengan saya, saya otaknya kotor. Pernah bilang itu?" tanya Wahid.
"Tidak pernah," jawab SF.
Suasana sidang sempat memanas ketika Abdul Wahid menanyakan soal permintaan maaf yang disebut pernah dilakukan SF Hariyanto kepadanya.
"Berapa kali bapak minta maaf ke saya dan cium tangan saya?" tanya Wahid.
Mendengar pertanyaan itu, SF langsung bereaksi.
"Siapa bapak kiranya?" jawab SF.
Wahid kemudian mengungkit pertemuan yang difasilitasi Kapolda Riau untuk mendamaikan keduanya.
"Waktu Kapolda mendamaikan kita dan foto tersebar ke mana-mana," katanya.
Namun SF kembali membantah.
"Saya tidak ada cium tangan bapak. Siapa bapak rupanya?" tegasnya.
Dalam persidangan tersebut, Abdul Wahid juga membantah anggapan bahwa dirinya tidak pernah memberikan tugas kepada SF Hariyanto selama menjabat sebagai wakil gubernur.
"Bapak bilang saya tidak pernah kasih tugas. Silakan tanya ke Taufik dan Syahrial Abdi," ujar Wahid.
Ia juga mengaku pernah memberikan izin kepada SF Hariyanto untuk berobat dan tetap menjaga hubungan baik.
"Bapak datang bersama Kapolda, bilang izin berobat. Saya kasih izin dan baik, akrab kepada SF," katanya.
Abdul Wahid kemudian mempertanyakan alasan SF yang disebut merasa tidak dilibatkan dalam pemerintahan.
"Mengapa bapak marah, merasa saya tidak melibatkan bapak?" tanya Wahid.
Namun SF memilih menyerahkan penilaian itu kepada Abdul Wahid.
"Bapak saja yang jawab diri sendiri," jawabnya.
SF selanjutnya mengungkapkan bahwa selama menjabat sebagai wakil gubernur dirinya merasa tidak pernah dilibatkan dalam berbagai proses pengambilan keputusan di lingkungan Pemerintah Provinsi Riau.
"Disposisi surat tidak pernah. Diajak rapat eselon empat tidak pernah. Kenapa tanya kepada saya?" kata SF.
Persidangan juga menyinggung isu penunjukan Sekretaris Daerah (Sekda) Riau. Abdul Wahid mempertanyakan apakah SF pernah menyampaikan kepada ulama Abdul Somad bahwa posisi Sekda harus diisi orang pilihannya.
"Pernah bapak menyampaikan ke UAS bahwa Sekda harus orang bapak?" tanya Wahid.
SF kembali membantah tudingan tersebut.
"Saya tidak pernah. Saya ke sana karena beliau tokoh agama, tolong perbaiki hubungan kami. Jangan saya dipelesetkan," tegas SF.
Menjelang akhir pemeriksaan, Abdul Wahid kembali menanyakan apakah persoalan tersebut menjadi alasan kemarahan SF terhadap dirinya.
"Bukan alasan saya itu," jawab SF.
Ia juga menegaskan bahwa proses demosi maupun mutasi pejabat bukan merupakan keputusan pribadinya, melainkan hasil kerja panitia seleksi.
"Soal demosi bukan soal dari saya karena tim pansel," kata SF Hariyanto.
Persidangan yang berlangsung cukup lama itu beberapa kali diwarnai saling bantah antara terdakwa dan saksi. Dialog keduanya mengungkap dinamika hubungan politik dan pemerintahan yang selama ini jarang muncul ke ruang publik. (rco)
| |
Harimau Sumatera Diduga Terkam Bocah 12 Tahun di...
Jumat, 10 Juli 2026 | 13:18:36
|
|---|
| |
KPK Sita SGD12 Ribu dari Ketua DPRD Kuansing,...
Kamis, 9 Juli 2026 | 19:25:56
|
|---|
| |
Dituntut 8,5 Tahun Penjara, Abdul Wahid: Dakwaan...
Kamis, 9 Juli 2026 | 19:22:18
|
|---|
| |
KASUS PEMERASAN: Gubri Nonaktif Abdul Wahid...
Kamis, 9 Juli 2026 | 19:19:06
|
|---|
| Harimau Sumatera Diduga Terkam Bocah 12 Tahun di Pelalawan, BBKSDA Riau: Satwa Masih Berkeliaran di Sekitar Lokasi
Jumat, 10 Juli 2026 | 13:18:36
|
|
|---|
| KPK Sita SGD12 Ribu dari Ketua DPRD Kuansing, Diduga Terkait Alih Fungsi Hutan
Kamis, 9 Juli 2026 | 19:25:56
|
|
|---|
| Dituntut 8,5 Tahun Penjara, Abdul Wahid: Dakwaan JPU KPK Dibangun dari "Cocoklogi"
Kamis, 9 Juli 2026 | 19:22:18
|
|
|---|
| KASUS PEMERASAN: Gubri Nonaktif Abdul Wahid Dituntut 8,5 Tahun Penjara dan Bayar Uang Pengganti Rp1,45 Miliar
Kamis, 9 Juli 2026 | 19:19:06
|
|
|---|
| JPU KPK Tuntut Arief Setiawan 5,5 Tahun Penjara dan Dani Nursalam 4 Tahun karena Berstatus Saksi Mahkota
Kamis, 9 Juli 2026 | 19:14:06
|
|
|---|
| Harimau Sumatera Diduga Terkam Bocah 12 Tahun di Pelalawan, BBKSDA Riau: Satwa Masih Berkeliaran di Sekitar Lokasi
Jumat, 10 Juli 2026 | 13:18:36
|
|
|---|
| KPK Sita SGD12 Ribu dari Ketua DPRD Kuansing, Diduga Terkait Alih Fungsi Hutan
Kamis, 9 Juli 2026 | 19:25:56
|
|
|---|
| Dituntut 8,5 Tahun Penjara, Abdul Wahid: Dakwaan JPU KPK Dibangun dari "Cocoklogi"
Kamis, 9 Juli 2026 | 19:22:18
|
|
|---|
| KASUS PEMERASAN: Gubri Nonaktif Abdul Wahid Dituntut 8,5 Tahun Penjara dan Bayar Uang Pengganti Rp1,45 Miliar
Kamis, 9 Juli 2026 | 19:19:06
|
|
|---|
| Penggeledahan Maraton KPK di Kuansing Berbuah Bukti Baru, Penyidikan Suhardiman Makin Menguat
Selasa, 7 Juli 2026 | 20:47:41
|
|---|
| Jhonny Andrean Resmi Masuk Rutan, Kejari Pekanbaru Eksekusi Terpidana Kasus Perintangan Penyidikan Korupsi DPRD
Selasa, 7 Juli 2026 | 20:41:52
|
|---|
| Kabur Setelah Kecelakaan, Polisi Buru Sopir Bus Pelangi yang Tewaskan 2 Penumpang di Tol Permai
Selasa, 7 Juli 2026 | 20:39:32
|
|---|
| Dituntut 8,5 Tahun Penjara, Abdul Wahid: Dakwaan JPU KPK Dibangun dari "Cocoklogi"
Kamis, 9 Juli 2026 | 19:22:18
|
|---|
| DPRD Kembali Temukan THM Langgar Aturan, Penindakan Pemkot Pekanbaru Dinilai Tak Beri Efek Jera
Kamis, 9 Juli 2026 | 19:12:00
|
|
|---|
| Penggeledahan Maraton KPK di Kuansing Berbuah Bukti Baru, Penyidikan Suhardiman Makin Menguat
Selasa, 7 Juli 2026 | 20:47:41
|
|
|---|
| Jhonny Andrean Resmi Masuk Rutan, Kejari Pekanbaru Eksekusi Terpidana Kasus Perintangan Penyidikan Korupsi DPRD
Selasa, 7 Juli 2026 | 20:41:52
|
|
|---|
| Kabur Setelah Kecelakaan, Polisi Buru Sopir Bus Pelangi yang Tewaskan 2 Penumpang di Tol Permai
Selasa, 7 Juli 2026 | 20:39:32
|
|
|---|
| Polisi Pastikan Penyelidikan Dugaan Kekerasan terhadap Mahasiswa Saat Demo DPRD Riau Terus Berjalan
Jumat, 3 Juli 2026 | 20:15:19
|
|
|---|
Wisata Edukasi di Perpustakaan Soeman HS |
Mal Pelayanan Publik Kota Pekanbaru |
|---|---|
Investasi Kawasan Industri Tenayan Pekanbaru
| Protokol Isolasi Mandiri |
| |
|---|
| Dani Nursalam Klaim Ada Tawaran Rp3 Miliar agar Tutup Mulut, Pilih Bongkar Fakta di Persidangan
Rabu, 1 Juli 2026 | 21:24:07
|
|
|---|
| Hari Bhayangkara ke-80, Polda Riau Terima Penghargaan Presiden, Wakapolda: Bukti Kepercayaan Masyarakat
Rabu, 1 Juli 2026 | 21:16:20
|
|
|---|
| Satu Komando 'Matahari Satu' di Dinas PUPR Riau, Arief Setiawan Akui Bergerak Atas Arahan Dani Nursalam
Rabu, 1 Juli 2026 | 21:13:53
|
|
|---|
| Saksi Ungkap Dugaan Upaya Pengaruh Keterangan Terdakwa, Istri Dani Cerita Surat Diduga dari Abdul Wahid
Rabu, 1 Juli 2026 | 21:10:51
|
|
|---|