
| |
Dari Lahan Sempit ke Rak Supermarket, Hidroponik Polsek Payung Sekaki Pekanbaru Panen Cuan
Kamis, 21 Mei 2026 | 12:35:02 |
|---|
| |
Sidang Korupsi PT SPRH: Mantan Bupati Rohil Afrizal Sintong Disebut Terima Aliran Dana Rp2 Miliar
Selasa, 19 Mei 2026 | 20:19:36 |
|---|
| |
Kasus Kuota Haji: KPK Dalami Sosok “ZA” dan Dugaan Aliran 1 Juta Dolar AS ke Pansus DPR
Selasa, 12 Mei 2026 | 21:12:31 |
|---|
| |
Tragis! Pelajar 13 Tahun Meregang Nyawa Usai Jatuh Saat Salip Dump Truck di Palas Rumbai
Jumat, 15 Mei 2026 | 20:36:04 |
|---|
| |
Kebun Jagung di Payung Sekaki Jadi Perhatian Polisi, Panen Perdana Ditargetkan Juni 2026
Selasa, 19 Mei 2026 | 13:24:12 |
|---|
| |
Polda Riau Ungkap 435 Kasus Narkoba Selama Operasi Antik Lancang Kuning 2026, 557 Tersangka Diamankan
Selasa, 12 Mei 2026 | 21:08:23 |
|---|
PEKANBARU - Ultimatum Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang akan memberlakukan kebijakan tarif baru sebesar 32 persen terhadap seluruh produk asal Indonesia mulai 1 Agustus 2025 mendatang, dinilai kalangan pengamat tidak akan mempengaruhi kondisi perekonomian Provinsi Riau.
"Riau kuat menghadapi proteksi dagang Trump itu karena produk kita bukan sasaran tarif Trump. Ekspor Riau juga bukan ke negeri Paman Sam," kata Ekonom Senior Universitas Riau, Dahlan Tampubolon, Selasa (8/7/2025).
Dikatakan Dahlan, pemberlakuan tarif impor sebesar 32 persen terhadap produk Indonesia mulai 1 Agustus 2025 besok itu sebagai tarif timbal balik yang didasarkan pada neraca perdagangan yang defisit (nilai impor AS dari Indonesia lebih besar daripada ekspor AS ke Indonesia) sebesar -$18 miliar bagi AS.
Indonesia sendiri, sebagai anggota baru BRICS yang bergabung sejak awal 2025, juga berpotensi terkena tarif tambahan 10 persen dari AS. Ancaman ini muncul setelah negara-negara BRICS mengeluarkan pernyataan bersama yang mengecam tindakan AS terkait tarif perdagangan dan serangan ke Iran. BRICS mengkritik tindakan yang membatasi perdagangan global, seperti kenaikan bea impor, karena mengancam perdagangan global, mengganggu rantai pasok, dan menciptakan ketidakpastian ekonomi.
"Meski Indonesia secara keseluruhan menghadapi tantangan, tapi Riau menunjukkan ketahanan ekonomi yang mengesankan di tengah kebijakan proteksionisme Trump itu," kata Dahlan.
Data ekspor Riau pada April 2025 mencapai $1,313 miliar, dengan dominasi non-migas sebesar 92,39 persen. Kumulatif ekspor Januari-April 2025 juga melonjak 20,03 persen menjadi $6,505 miliar.
"Ini menunjukkan bahwa Riau memiliki pondasi ekonomi yang kuat dan tidak mudah goyah oleh gejolak perdagangan internasional," kata Local Expert Kementerian Keuangan Kanwil DJPb Provinsi Riau ini.
Ekspor Riau, lanjut Dahlan, didominasi oleh produk yang tidak menjadi sasaran utama kebijakan proteksionis AS. Lemak dan minyak (terutama CPO dan turunannya) berkontribusi 54,89 persen dari total ekspor Riau, dan mengalami peningkatan volume 6,02 persen serta nilai 38,25 persen. Produk-produk ini memiliki pasar kuat di Asia, seperti China, India, dan Malaysia, yang merupakan tiga pasar utama Riau.
"Riau telah bertransformasi dari eksportir bahan mentah menjadi produsen produk siap pakai. Industri pengolahan menyumbang 90,61 persen dari struktur ekspor Riau, naik 25,14 persen secara akumulatif. Ini menunjukkan pengolahan sawit menjadi produk bernilai tambah tinggi," ungkap Dahlan.
Meski ekspor ke India turun 14,88 persen, sebut Dahlan, namun India tetap menjadi salah satu pasar utama Riau dengan nilai $501,67 juta. India masih sangat membutuhkan pasokan minyak kelapa sawit, 33,69 persen ekspor Riau ke India karena keterbatasan produksi domestik di Indonesia. Hal ini membuka peluang peningkatan kualitas dan nilai tambah produk. Kemudian industri kimia dasar organik dari hasil pertanian, 16,73 persen ekspor ke India, menunjukkan kemampuan Riau bersaing di segmen bernilai tambah tinggi.
Selain itu, ekspor produk kimia Riau melonjak 57,20 persen, dengan industri kimia dasar organik dari hasil pertanian menjadi "bintang baru" berkontribusi signifikan ke China 14,83 persen dan Malaysia 35,35 persen.
"Dengan bahan baku melimpah dari kelapa sawit, Riau memiliki keunggulan kompetitif dalam memproduksi oleokimia, biodiesel, kosmetik, hingga bahan farmasi. Di Riau juga telah dikembangkan produk ramah lingkungan dari bahan baku lokal, seperti industri kertas dan karton yang tumbuh 26,19 persen," papar Dahlan.
Optimalkan Pasar Regional
Meski Riau telah mengembangkan industri pengolahan yang lebih beragam berdasarkan pertumbuhan ekspor komoditas pertanian, namun menurut Dahlan, Riau masih perlu mengoptimalkan potensi pasar regional ASEAN dan Asia, seperti lonjakan 79,50 persen ekspor ke Malaysia. Indonesia yang bergabung dalam RCEP dan perjanjian perdagangan regional lainnya dapat menjadikan Riau sebagai hubungan ekspor yang lebih kuat.
"Jadi, meski Indonesia secara nasional akan menghadapi tantangan signifikan akibat tarif impor 32 persen dari AS dan potensi tarif tambahan 10 persen sebagai anggota BRICS, Riau menunjukkan kemampuan untuk menghadapi gejolak ini dengan ketahanan ekonomi yang kuat," tandas Dahlan.
Menurut Dahlan, kunci keberhasilan Riau dalam hal ini adalah strategi diversifikasi pasar, transformasi industri, dan pengembangan produk bernilai tambah tinggi, terutama di sektor kelapa sawit dan industri kimia organik. "Ini menjadi pelajaran penting bagi daerah lain di Indonesia untuk membangun kemandirian ekonomi yang tidak bergantung pada satu pasar atau satu produk," katanya.
Seperti diketahui, Presiden AS Donald Trump secara resmi mengirim surat kepada Presiden Indonesia Prabowo Subianto, yang mengumumkan kebijakan tarif baru sebesar 32 persen terhadap seluruh produk asal Indonesia. Kebijakan ini mulai berlaku per 1 Agustus 2025.
Dalam pernyataannya di platform Truth Social, Trump menyebut hubungan perdagangan Indonesia-AS selama ini tidak adil dan merugikan AS. Ia mengklaim defisit perdagangan sebagai alasan utama dijatuhkannya tarif baru.
"Mulai 1 Agustus 2025, kami akan menjatuhkan tarif 32 persen kepada semua produk Indonesia yang dikirim ke AS, terpisah dari tarif sektoral yang dijatuhkan," tegas Trump.
Kata Trump, tarif bisa dibatalkan jika perusahaan Indonesia bersedia membangun fasilitas manufaktur di wilayah Amerika Serikat. Ia menjanjikan percepatan izin bagi investor asal Indonesia.
"Kami akan memastikan semua proses izin bisa diselesaikan dalam hitungan minggu, bukan bulan," ujar Trump dalam suratnya.
Namun, Trump juga mengeluarkan ancaman lanjutan. Ia menyebut jika Indonesia membalas dengan tarif serupa, maka produk dari RI akan dikenai bea masuk tambahan.
"Tarif yang ditetapkan Indonesia selama bertahun-tahun telah menyebabkan ketidakseimbangan dan membahayakan ekonomi serta keamanan nasional kami," klaimnya.
Langkah ini memicu kekhawatiran akan munculnya perang dagang baru antara Indonesia dan AS. Pemerintah RI hingga kini belum memberikan tanggapan resmi terhadap surat tersebut. (idr)
| |
AMPLANG, KULINER KHAS INHIL - PESONA WISATA KULINER
Kamis, 2 Maret 2023 | 21:37:48 |
|---|
| |
Wisata Edukasi di Perpustakaan Soeman HS
Senin, 7 November 2022 | 22:26:22 |
|---|
| |
Mal Pelayanan Publik Kota Pekanbaru
Senin, 7 November 2022 | 22:24:20 |
|---|
| ☰ | |
×
|
|---|
PEKANBARU - Ultimatum Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang akan memberlakukan kebijakan tarif baru sebesar 32 persen terhadap seluruh produk asal Indonesia mulai 1 Agustus 2025 mendatang, dinilai kalangan pengamat tidak akan mempengaruhi kondisi perekonomian Provinsi Riau.
"Riau kuat menghadapi proteksi dagang Trump itu karena produk kita bukan sasaran tarif Trump. Ekspor Riau juga bukan ke negeri Paman Sam," kata Ekonom Senior Universitas Riau, Dahlan Tampubolon, Selasa (8/7/2025).
Dikatakan Dahlan, pemberlakuan tarif impor sebesar 32 persen terhadap produk Indonesia mulai 1 Agustus 2025 besok itu sebagai tarif timbal balik yang didasarkan pada neraca perdagangan yang defisit (nilai impor AS dari Indonesia lebih besar daripada ekspor AS ke Indonesia) sebesar -$18 miliar bagi AS.
Indonesia sendiri, sebagai anggota baru BRICS yang bergabung sejak awal 2025, juga berpotensi terkena tarif tambahan 10 persen dari AS. Ancaman ini muncul setelah negara-negara BRICS mengeluarkan pernyataan bersama yang mengecam tindakan AS terkait tarif perdagangan dan serangan ke Iran. BRICS mengkritik tindakan yang membatasi perdagangan global, seperti kenaikan bea impor, karena mengancam perdagangan global, mengganggu rantai pasok, dan menciptakan ketidakpastian ekonomi.
"Meski Indonesia secara keseluruhan menghadapi tantangan, tapi Riau menunjukkan ketahanan ekonomi yang mengesankan di tengah kebijakan proteksionisme Trump itu," kata Dahlan.
Data ekspor Riau pada April 2025 mencapai $1,313 miliar, dengan dominasi non-migas sebesar 92,39 persen. Kumulatif ekspor Januari-April 2025 juga melonjak 20,03 persen menjadi $6,505 miliar.
"Ini menunjukkan bahwa Riau memiliki pondasi ekonomi yang kuat dan tidak mudah goyah oleh gejolak perdagangan internasional," kata Local Expert Kementerian Keuangan Kanwil DJPb Provinsi Riau ini.
Ekspor Riau, lanjut Dahlan, didominasi oleh produk yang tidak menjadi sasaran utama kebijakan proteksionis AS. Lemak dan minyak (terutama CPO dan turunannya) berkontribusi 54,89 persen dari total ekspor Riau, dan mengalami peningkatan volume 6,02 persen serta nilai 38,25 persen. Produk-produk ini memiliki pasar kuat di Asia, seperti China, India, dan Malaysia, yang merupakan tiga pasar utama Riau.
"Riau telah bertransformasi dari eksportir bahan mentah menjadi produsen produk siap pakai. Industri pengolahan menyumbang 90,61 persen dari struktur ekspor Riau, naik 25,14 persen secara akumulatif. Ini menunjukkan pengolahan sawit menjadi produk bernilai tambah tinggi," ungkap Dahlan.
Meski ekspor ke India turun 14,88 persen, sebut Dahlan, namun India tetap menjadi salah satu pasar utama Riau dengan nilai $501,67 juta. India masih sangat membutuhkan pasokan minyak kelapa sawit, 33,69 persen ekspor Riau ke India karena keterbatasan produksi domestik di Indonesia. Hal ini membuka peluang peningkatan kualitas dan nilai tambah produk. Kemudian industri kimia dasar organik dari hasil pertanian, 16,73 persen ekspor ke India, menunjukkan kemampuan Riau bersaing di segmen bernilai tambah tinggi.
Selain itu, ekspor produk kimia Riau melonjak 57,20 persen, dengan industri kimia dasar organik dari hasil pertanian menjadi "bintang baru" berkontribusi signifikan ke China 14,83 persen dan Malaysia 35,35 persen.
"Dengan bahan baku melimpah dari kelapa sawit, Riau memiliki keunggulan kompetitif dalam memproduksi oleokimia, biodiesel, kosmetik, hingga bahan farmasi. Di Riau juga telah dikembangkan produk ramah lingkungan dari bahan baku lokal, seperti industri kertas dan karton yang tumbuh 26,19 persen," papar Dahlan.
Optimalkan Pasar Regional
Meski Riau telah mengembangkan industri pengolahan yang lebih beragam berdasarkan pertumbuhan ekspor komoditas pertanian, namun menurut Dahlan, Riau masih perlu mengoptimalkan potensi pasar regional ASEAN dan Asia, seperti lonjakan 79,50 persen ekspor ke Malaysia. Indonesia yang bergabung dalam RCEP dan perjanjian perdagangan regional lainnya dapat menjadikan Riau sebagai hubungan ekspor yang lebih kuat.
"Jadi, meski Indonesia secara nasional akan menghadapi tantangan signifikan akibat tarif impor 32 persen dari AS dan potensi tarif tambahan 10 persen sebagai anggota BRICS, Riau menunjukkan kemampuan untuk menghadapi gejolak ini dengan ketahanan ekonomi yang kuat," tandas Dahlan.
Menurut Dahlan, kunci keberhasilan Riau dalam hal ini adalah strategi diversifikasi pasar, transformasi industri, dan pengembangan produk bernilai tambah tinggi, terutama di sektor kelapa sawit dan industri kimia organik. "Ini menjadi pelajaran penting bagi daerah lain di Indonesia untuk membangun kemandirian ekonomi yang tidak bergantung pada satu pasar atau satu produk," katanya.
Seperti diketahui, Presiden AS Donald Trump secara resmi mengirim surat kepada Presiden Indonesia Prabowo Subianto, yang mengumumkan kebijakan tarif baru sebesar 32 persen terhadap seluruh produk asal Indonesia. Kebijakan ini mulai berlaku per 1 Agustus 2025.
Dalam pernyataannya di platform Truth Social, Trump menyebut hubungan perdagangan Indonesia-AS selama ini tidak adil dan merugikan AS. Ia mengklaim defisit perdagangan sebagai alasan utama dijatuhkannya tarif baru.
"Mulai 1 Agustus 2025, kami akan menjatuhkan tarif 32 persen kepada semua produk Indonesia yang dikirim ke AS, terpisah dari tarif sektoral yang dijatuhkan," tegas Trump.
Kata Trump, tarif bisa dibatalkan jika perusahaan Indonesia bersedia membangun fasilitas manufaktur di wilayah Amerika Serikat. Ia menjanjikan percepatan izin bagi investor asal Indonesia.
"Kami akan memastikan semua proses izin bisa diselesaikan dalam hitungan minggu, bukan bulan," ujar Trump dalam suratnya.
Namun, Trump juga mengeluarkan ancaman lanjutan. Ia menyebut jika Indonesia membalas dengan tarif serupa, maka produk dari RI akan dikenai bea masuk tambahan.
"Tarif yang ditetapkan Indonesia selama bertahun-tahun telah menyebabkan ketidakseimbangan dan membahayakan ekonomi serta keamanan nasional kami," klaimnya.
Langkah ini memicu kekhawatiran akan munculnya perang dagang baru antara Indonesia dan AS. Pemerintah RI hingga kini belum memberikan tanggapan resmi terhadap surat tersebut. (idr)
| |
Sidang Abdul Wahid: Kesaksian Dani Ungkap Rencana...
Kamis, 4 Juni 2026 | 16:47:33
|
|---|
| |
Sidang Abdul Wahid: Dani Sebut Bupati Inhu...
Kamis, 4 Juni 2026 | 16:34:28
|
|---|
| |
Sidang Korupsi Abdul Wahid Memanas, Hubungan...
Rabu, 3 Juni 2026 | 20:02:16
|
|---|
| |
Ribuan Ekstasi dan Etomidate Dicegat di Batas...
Minggu, 31 Mei 2026 | 15:29:07
|
|---|
| Sidang Abdul Wahid: Kesaksian Dani Ungkap Rencana Penyerahan Rp1 Miliar yang Gagal akibat OTT KPK
Kamis, 4 Juni 2026 | 16:47:33
|
|
|---|
| Sidang Abdul Wahid: Dani Sebut Bupati Inhu Sarankan Tinggalkan 3 Ponsel Sebelum Serahkan Diri ke KPK
Kamis, 4 Juni 2026 | 16:34:28
|
|
|---|
| Sinergi Polsek Payung Sekaki dan Petani Berbuah Manis, Panen Jagung 4 Ton dari Lahan 1 Hektare di Tapung
Rabu, 3 Juni 2026 | 20:13:03
|
|
|---|
| Sidang Korupsi Abdul Wahid Memanas, Hubungan Retak dengan SF Hariyanto Terungkap di Pengadilan
Rabu, 3 Juni 2026 | 20:02:16
|
|
|---|
| Budidaya Lele di Tampan Berkembang, Posek Payung Sekaki Dorong Ketahanan Pangan dan Ekonomi Warga
Selasa, 2 Juni 2026 | 15:46:50
|
|
|---|
| Sidang Abdul Wahid: Kesaksian Dani Ungkap Rencana Penyerahan Rp1 Miliar yang Gagal akibat OTT KPK
Kamis, 4 Juni 2026 | 16:47:33
|
|
|---|
| Sidang Abdul Wahid: Dani Sebut Bupati Inhu Sarankan Tinggalkan 3 Ponsel Sebelum Serahkan Diri ke KPK
Kamis, 4 Juni 2026 | 16:34:28
|
|
|---|
| Sinergi Polsek Payung Sekaki dan Petani Berbuah Manis, Panen Jagung 4 Ton dari Lahan 1 Hektare di Tapung
Rabu, 3 Juni 2026 | 20:13:03
|
|
|---|
| Sidang Korupsi Abdul Wahid Memanas, Hubungan Retak dengan SF Hariyanto Terungkap di Pengadilan
Rabu, 3 Juni 2026 | 20:02:16
|
|
|---|
| Sidang Korupsi Abdul Wahid Memanas, Hubungan Retak dengan SF Hariyanto Terungkap di Pengadilan
Rabu, 3 Juni 2026 | 20:02:16
|
|---|
| Sinergi Polsek Payung Sekaki dan Petani Berbuah Manis, Panen Jagung 4 Ton dari Lahan 1 Hektare di Tapung
Rabu, 3 Juni 2026 | 20:13:03
|
|---|
| Kanit Binmas Polsek Payung Sekaki Bersama Bhabinkamtibmas Semangati Petani dan Peternak di Tirta Siak
Senin, 1 Juni 2026 | 16:36:28
|
|---|
| Budidaya Lele di Tampan Berkembang, Posek Payung Sekaki Dorong Ketahanan Pangan dan Ekonomi Warga
Selasa, 2 Juni 2026 | 15:46:50
|
|---|
| Kanit Binmas Polsek Payung Sekaki Bersama Bhabinkamtibmas Semangati Petani dan Peternak di Tirta Siak
Senin, 1 Juni 2026 | 16:36:28
|
|
|---|
| BBPOM dan Komisi IX DPR RI Edukasi Pangan Aman untuk Cegah Stunting, Warga Tapung Hulu Antusias
Minggu, 31 Mei 2026 | 15:31:25
|
|
|---|
| Ribuan Ekstasi dan Etomidate Dicegat di Batas Kota Pekanbaru, Dua Tersangka Ditangkap
Minggu, 31 Mei 2026 | 15:29:07
|
|
|---|
| Polsek Payung Sekaki Dampingi Warga Kelola Kebun Jagung, Perkuat Ketahanan Pangan dari Lingkungan Terdekat
Minggu, 31 Mei 2026 | 15:24:05
|
|
|---|
| Bhabinkamtibmas Payung Sekaki Cek Tanaman Jagung di Karya Indah, Panen Diprediksi Awal Juni
Jumat, 29 Mei 2026 | 15:59:45
|
|
|---|
Wisata Edukasi di Perpustakaan Soeman HS |
Mal Pelayanan Publik Kota Pekanbaru |
|---|---|
Investasi Kawasan Industri Tenayan Pekanbaru
| Protokol Isolasi Mandiri |
| Aroma Rendang Akhiri Pelarian Napi Pekanbaru Ini, Ditangkap Saat Dekati Warga Lagi Masak Daging Kurban
Kamis, 28 Mei 2026 | 14:05:39
|
|
|---|
| Jajaran Polsek Payung Sekaki Sambangi Lahan Jagung Warga di Kawasan Air Hitam
Kamis, 28 Mei 2026 | 14:00:43
|
|
|---|
| Napi Kasus Curat Kabur Dari Rutan Pekanbaru, Petugas Masih Lakukan Pengejaran
Selasa, 26 Mei 2026 | 21:16:50
|
|
|---|
| Heboh Razia THM Pekanbaru, AF Diduga Anak Bupati dan Selebgram SA Positif Narkotika
Selasa, 26 Mei 2026 | 21:13:42
|
|
|---|
| Dari Lahan Tidur Jadi Ladang Harapan, Jagung Binaan Polsek Payung Sekaki di Tapung Segera Panen
Selasa, 26 Mei 2026 | 16:02:05
|
|
|---|