Pemberlakuan Kebijakan Tarif Baru 32 Persen Trump Takkan Pengaruhi Perekonomian Riau, Ini Alasannya
Editor: Redaktur Bisnis | Reporter : Idrus Yamin
Rabu, 9 Juli 2025 | 08:06:34
Ekonom Senior Universitas Riau, Dahlan Tampubolon.

PEKANBARU - Ultimatum Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang akan memberlakukan kebijakan tarif baru sebesar 32 persen terhadap seluruh produk asal Indonesia mulai 1 Agustus 2025 mendatang, dinilai kalangan pengamat tidak akan  mempengaruhi kondisi perekonomian Provinsi Riau.

"Riau kuat menghadapi proteksi dagang Trump itu karena produk kita bukan sasaran tarif Trump. Ekspor Riau juga bukan ke negeri Paman Sam," kata Ekonom Senior Universitas Riau, Dahlan Tampubolon, Selasa (8/7/2025).

Dikatakan Dahlan, pemberlakuan tarif impor sebesar 32 persen terhadap produk Indonesia mulai 1 Agustus 2025 besok itu sebagai tarif timbal balik yang didasarkan pada neraca perdagangan yang defisit (nilai impor AS dari Indonesia lebih besar daripada ekspor AS ke Indonesia) sebesar -$18 miliar bagi AS.

Indonesia sendiri, sebagai anggota baru BRICS yang bergabung sejak awal 2025, juga berpotensi terkena tarif tambahan 10 persen dari AS. Ancaman ini muncul setelah negara-negara BRICS mengeluarkan pernyataan bersama yang mengecam tindakan AS terkait tarif perdagangan dan serangan ke Iran. BRICS mengkritik tindakan yang membatasi perdagangan global, seperti kenaikan bea impor, karena mengancam perdagangan global, mengganggu rantai pasok, dan menciptakan ketidakpastian ekonomi.

"Meski Indonesia secara keseluruhan menghadapi tantangan, tapi Riau menunjukkan ketahanan ekonomi yang mengesankan di tengah kebijakan proteksionisme Trump itu," kata Dahlan.

Data ekspor Riau pada April 2025 mencapai $1,313 miliar, dengan dominasi non-migas sebesar 92,39 persen. Kumulatif ekspor Januari-April 2025 juga melonjak 20,03 persen menjadi $6,505 miliar. 

"Ini menunjukkan bahwa Riau memiliki pondasi ekonomi yang kuat dan tidak mudah goyah oleh gejolak perdagangan internasional," kata Local Expert Kementerian Keuangan Kanwil DJPb Provinsi Riau ini.

Ekspor Riau, lanjut Dahlan, didominasi oleh produk yang tidak menjadi sasaran utama kebijakan proteksionis AS. Lemak dan minyak (terutama CPO dan turunannya) berkontribusi 54,89 persen dari total ekspor Riau, dan mengalami peningkatan volume 6,02 persen serta nilai 38,25 persen. Produk-produk ini memiliki pasar kuat di Asia, seperti China, India, dan Malaysia, yang merupakan tiga pasar utama Riau. 

"Riau telah bertransformasi dari eksportir bahan mentah menjadi produsen produk siap pakai. Industri pengolahan menyumbang 90,61 persen dari struktur ekspor Riau, naik 25,14 persen secara akumulatif. Ini menunjukkan pengolahan sawit menjadi produk bernilai tambah tinggi," ungkap Dahlan.

Meski ekspor ke India turun 14,88 persen, sebut Dahlan, namun India tetap menjadi salah satu pasar utama Riau dengan nilai $501,67 juta. India masih sangat membutuhkan pasokan minyak kelapa sawit, 33,69 persen ekspor Riau ke India karena keterbatasan produksi domestik di Indonesia. Hal ini membuka peluang peningkatan kualitas dan nilai tambah produk. Kemudian industri kimia dasar organik dari hasil pertanian, 16,73 persen ekspor ke India, menunjukkan kemampuan Riau bersaing di segmen bernilai tambah tinggi.

Selain itu, ekspor produk kimia Riau melonjak 57,20 persen, dengan industri kimia dasar organik dari hasil pertanian menjadi "bintang baru" berkontribusi signifikan ke China 14,83 persen dan Malaysia 35,35 persen. 

"Dengan bahan baku melimpah dari kelapa sawit, Riau memiliki keunggulan kompetitif dalam memproduksi oleokimia, biodiesel, kosmetik, hingga bahan farmasi. Di Riau juga telah dikembangkan produk ramah lingkungan dari bahan baku lokal, seperti industri kertas dan karton yang tumbuh 26,19 persen," papar Dahlan.

Optimalkan Pasar Regional

Meski Riau telah mengembangkan industri pengolahan yang lebih beragam berdasarkan pertumbuhan ekspor komoditas pertanian, namun menurut Dahlan, Riau masih perlu mengoptimalkan potensi pasar regional ASEAN dan Asia, seperti lonjakan 79,50 persen ekspor ke Malaysia. Indonesia yang bergabung dalam RCEP dan perjanjian perdagangan regional lainnya dapat menjadikan Riau sebagai hubungan ekspor yang lebih kuat.

"Jadi, meski Indonesia secara nasional akan menghadapi tantangan signifikan akibat tarif impor 32 persen dari AS dan potensi tarif tambahan 10 persen sebagai anggota BRICS, Riau menunjukkan kemampuan untuk menghadapi gejolak ini dengan ketahanan ekonomi yang kuat," tandas Dahlan.

Menurut Dahlan, kunci keberhasilan Riau dalam hal ini adalah strategi diversifikasi pasar, transformasi industri, dan pengembangan produk bernilai tambah tinggi, terutama di sektor kelapa sawit dan industri kimia organik. "Ini menjadi pelajaran penting bagi daerah lain di Indonesia untuk membangun kemandirian ekonomi yang tidak bergantung pada satu pasar atau satu produk," katanya.

Seperti diketahui, Presiden AS Donald Trump secara resmi mengirim surat kepada Presiden Indonesia Prabowo Subianto, yang mengumumkan kebijakan tarif baru sebesar 32 persen terhadap seluruh produk asal Indonesia. Kebijakan ini mulai berlaku per 1 Agustus 2025.

Dalam pernyataannya di platform Truth Social, Trump menyebut hubungan perdagangan Indonesia-AS selama ini tidak adil dan merugikan AS. Ia mengklaim defisit perdagangan sebagai alasan utama dijatuhkannya tarif baru.
"Mulai 1 Agustus 2025, kami akan menjatuhkan tarif 32 persen kepada semua produk Indonesia yang dikirim ke AS, terpisah dari tarif sektoral yang dijatuhkan," tegas Trump.

Kata Trump, tarif bisa dibatalkan jika perusahaan Indonesia bersedia membangun fasilitas manufaktur di wilayah Amerika Serikat. Ia menjanjikan percepatan izin bagi investor asal Indonesia.

"Kami akan memastikan semua proses izin bisa diselesaikan dalam hitungan minggu, bukan bulan," ujar Trump dalam suratnya.

Namun, Trump juga mengeluarkan ancaman lanjutan. Ia menyebut jika Indonesia membalas dengan tarif serupa, maka produk dari RI akan dikenai bea masuk tambahan.

"Tarif yang ditetapkan Indonesia selama bertahun-tahun telah menyebabkan ketidakseimbangan dan membahayakan ekonomi serta keamanan nasional kami," klaimnya.

Langkah ini memicu kekhawatiran akan munculnya perang dagang baru antara Indonesia dan AS. Pemerintah RI hingga kini belum memberikan tanggapan resmi terhadap surat tersebut. (idr)

Zona
hukum
Bisnis
Wisata Edukasi di Perpustakaan Soeman HS

Senin, 7 November 2022 | 22:26:22
Mal Pelayanan Publik Kota Pekanbaru

Senin, 7 November 2022 | 22:24:20
nasional
internasional
profil
otomotif
Artikel Pilihan
Pemberlakuan Kebijakan Tarif Baru 32 Persen Trump Takkan Pengaruhi Perekonomian Riau, Ini Alasannya | Redaksi77.co
×
Home /bisnis
Pemberlakuan Kebijakan Tarif Baru 32 Persen Trump Takkan Pengaruhi Perekonomian Riau, Ini Alasannya
Editor : Redaktur Bisnis | Penulis: Idrus Yamin
Rabu, 9 Juli 2025 | 08:06:34
Ekonom Senior Universitas Riau, Dahlan Tampubolon.

PEKANBARU - Ultimatum Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang akan memberlakukan kebijakan tarif baru sebesar 32 persen terhadap seluruh produk asal Indonesia mulai 1 Agustus 2025 mendatang, dinilai kalangan pengamat tidak akan  mempengaruhi kondisi perekonomian Provinsi Riau.

"Riau kuat menghadapi proteksi dagang Trump itu karena produk kita bukan sasaran tarif Trump. Ekspor Riau juga bukan ke negeri Paman Sam," kata Ekonom Senior Universitas Riau, Dahlan Tampubolon, Selasa (8/7/2025).

Dikatakan Dahlan, pemberlakuan tarif impor sebesar 32 persen terhadap produk Indonesia mulai 1 Agustus 2025 besok itu sebagai tarif timbal balik yang didasarkan pada neraca perdagangan yang defisit (nilai impor AS dari Indonesia lebih besar daripada ekspor AS ke Indonesia) sebesar -$18 miliar bagi AS.

Indonesia sendiri, sebagai anggota baru BRICS yang bergabung sejak awal 2025, juga berpotensi terkena tarif tambahan 10 persen dari AS. Ancaman ini muncul setelah negara-negara BRICS mengeluarkan pernyataan bersama yang mengecam tindakan AS terkait tarif perdagangan dan serangan ke Iran. BRICS mengkritik tindakan yang membatasi perdagangan global, seperti kenaikan bea impor, karena mengancam perdagangan global, mengganggu rantai pasok, dan menciptakan ketidakpastian ekonomi.

"Meski Indonesia secara keseluruhan menghadapi tantangan, tapi Riau menunjukkan ketahanan ekonomi yang mengesankan di tengah kebijakan proteksionisme Trump itu," kata Dahlan.

Data ekspor Riau pada April 2025 mencapai $1,313 miliar, dengan dominasi non-migas sebesar 92,39 persen. Kumulatif ekspor Januari-April 2025 juga melonjak 20,03 persen menjadi $6,505 miliar. 

"Ini menunjukkan bahwa Riau memiliki pondasi ekonomi yang kuat dan tidak mudah goyah oleh gejolak perdagangan internasional," kata Local Expert Kementerian Keuangan Kanwil DJPb Provinsi Riau ini.

Ekspor Riau, lanjut Dahlan, didominasi oleh produk yang tidak menjadi sasaran utama kebijakan proteksionis AS. Lemak dan minyak (terutama CPO dan turunannya) berkontribusi 54,89 persen dari total ekspor Riau, dan mengalami peningkatan volume 6,02 persen serta nilai 38,25 persen. Produk-produk ini memiliki pasar kuat di Asia, seperti China, India, dan Malaysia, yang merupakan tiga pasar utama Riau. 

"Riau telah bertransformasi dari eksportir bahan mentah menjadi produsen produk siap pakai. Industri pengolahan menyumbang 90,61 persen dari struktur ekspor Riau, naik 25,14 persen secara akumulatif. Ini menunjukkan pengolahan sawit menjadi produk bernilai tambah tinggi," ungkap Dahlan.

Meski ekspor ke India turun 14,88 persen, sebut Dahlan, namun India tetap menjadi salah satu pasar utama Riau dengan nilai $501,67 juta. India masih sangat membutuhkan pasokan minyak kelapa sawit, 33,69 persen ekspor Riau ke India karena keterbatasan produksi domestik di Indonesia. Hal ini membuka peluang peningkatan kualitas dan nilai tambah produk. Kemudian industri kimia dasar organik dari hasil pertanian, 16,73 persen ekspor ke India, menunjukkan kemampuan Riau bersaing di segmen bernilai tambah tinggi.

Selain itu, ekspor produk kimia Riau melonjak 57,20 persen, dengan industri kimia dasar organik dari hasil pertanian menjadi "bintang baru" berkontribusi signifikan ke China 14,83 persen dan Malaysia 35,35 persen. 

"Dengan bahan baku melimpah dari kelapa sawit, Riau memiliki keunggulan kompetitif dalam memproduksi oleokimia, biodiesel, kosmetik, hingga bahan farmasi. Di Riau juga telah dikembangkan produk ramah lingkungan dari bahan baku lokal, seperti industri kertas dan karton yang tumbuh 26,19 persen," papar Dahlan.

Optimalkan Pasar Regional

Meski Riau telah mengembangkan industri pengolahan yang lebih beragam berdasarkan pertumbuhan ekspor komoditas pertanian, namun menurut Dahlan, Riau masih perlu mengoptimalkan potensi pasar regional ASEAN dan Asia, seperti lonjakan 79,50 persen ekspor ke Malaysia. Indonesia yang bergabung dalam RCEP dan perjanjian perdagangan regional lainnya dapat menjadikan Riau sebagai hubungan ekspor yang lebih kuat.

"Jadi, meski Indonesia secara nasional akan menghadapi tantangan signifikan akibat tarif impor 32 persen dari AS dan potensi tarif tambahan 10 persen sebagai anggota BRICS, Riau menunjukkan kemampuan untuk menghadapi gejolak ini dengan ketahanan ekonomi yang kuat," tandas Dahlan.

Menurut Dahlan, kunci keberhasilan Riau dalam hal ini adalah strategi diversifikasi pasar, transformasi industri, dan pengembangan produk bernilai tambah tinggi, terutama di sektor kelapa sawit dan industri kimia organik. "Ini menjadi pelajaran penting bagi daerah lain di Indonesia untuk membangun kemandirian ekonomi yang tidak bergantung pada satu pasar atau satu produk," katanya.

Seperti diketahui, Presiden AS Donald Trump secara resmi mengirim surat kepada Presiden Indonesia Prabowo Subianto, yang mengumumkan kebijakan tarif baru sebesar 32 persen terhadap seluruh produk asal Indonesia. Kebijakan ini mulai berlaku per 1 Agustus 2025.

Dalam pernyataannya di platform Truth Social, Trump menyebut hubungan perdagangan Indonesia-AS selama ini tidak adil dan merugikan AS. Ia mengklaim defisit perdagangan sebagai alasan utama dijatuhkannya tarif baru.
"Mulai 1 Agustus 2025, kami akan menjatuhkan tarif 32 persen kepada semua produk Indonesia yang dikirim ke AS, terpisah dari tarif sektoral yang dijatuhkan," tegas Trump.

Kata Trump, tarif bisa dibatalkan jika perusahaan Indonesia bersedia membangun fasilitas manufaktur di wilayah Amerika Serikat. Ia menjanjikan percepatan izin bagi investor asal Indonesia.

"Kami akan memastikan semua proses izin bisa diselesaikan dalam hitungan minggu, bukan bulan," ujar Trump dalam suratnya.

Namun, Trump juga mengeluarkan ancaman lanjutan. Ia menyebut jika Indonesia membalas dengan tarif serupa, maka produk dari RI akan dikenai bea masuk tambahan.

"Tarif yang ditetapkan Indonesia selama bertahun-tahun telah menyebabkan ketidakseimbangan dan membahayakan ekonomi serta keamanan nasional kami," klaimnya.

Langkah ini memicu kekhawatiran akan munculnya perang dagang baru antara Indonesia dan AS. Pemerintah RI hingga kini belum memberikan tanggapan resmi terhadap surat tersebut. (idr)

Pilihan Editor
Artikel Populer
Wisata Edukasi di Perpustakaan Soeman HS
Mal Pelayanan Publik Kota Pekanbaru
Investasi Kawasan Industri Tenayan Pekanbaru
Protokol Isolasi Mandiri